Berita Jurnalkitaplus – Harga Bitcoin (BTC) kembali menjadi sorotan setelah alami penurunan drastis dalam beberapa hari terakhir. Cryptocurrency terbesar dunia ini sempat mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa, namun tekanan dari kebijakan makroekonomi Amerika Serikat dan ketegangan dagang global menjadi pemicu utama anjloknya harga.
Nilai Tertinggi Bitcoin Oktober 2025
Pada 6 Oktober 2025, Bitcoin sukses menembus harga tertinggi sepanjang masa di US$ 126.198. Setelah itu, BTC sempat stabil di atas US$ 122.000 sebelum akhirnya harus menyerah terhadap tekanan bearish dan jatuh ke kisaran US$ 105.000–108.000 per 17 Oktober 2025.
Penyebab Anjloknya Bitcoin
Berikut faktor-faktor utama pemicu penurunan harga Bitcoin yang dirangkum dari reku.id :
- Pengetatan Likuiditas Keuangan AS: Meningkatnya spread antara SOFR dan EFFR menjadi sinyal mahalnya biaya pendanaan antar bank, serta data penggunaan Standing Repo Facility The Fed yang melonjak, menunjukkan likuiditas ketat dalam sistem keuangan.
- Ketegangan Dagang China-AS: Pengumuman tarif tambahan 100% oleh Presiden Trump untuk impor China dan respons China dengan pembatasan ekspor memperburuk tekanan pada aset berisiko tinggi seperti kripto, mendorong investor beralih ke aset safe haven.
- Sentimen Negatif Global: Keputusan investor global meninggalkan crypto saat kondisi ekonomi dan geopolitik memburuk menyebabkan likuidasi posisi besar-besaran senilai miliaran dolar dalam waktu singkat.
Prediksi Harga Bitcoin ke Depan
Meski pasar tengah lesu, prospek medium hingga jangka panjang Bitcoin masih dipandang optimistis oleh sejumlah analis. Berdasarkan pola historis, kuartal akhir biasanya diwarnai kenaikan harga rata-rata 44%, dan sejarah menunjukkan 70% Q4 ditutup dengan keuntungan. Beberapa proyeksi menyebut Bitcoin bisa kembali reli dan menembus US$ 140.000 pada akhir Oktober 2025, bahkan berpotensi mencapai US$ 160.000 menjelang Natal, jika sentimen pasar membaik dan The Fed melonggarkan kebijakan likuiditas
Bitcoin saat ini diperdagangkan dengan volatilitas tinggi. Bagi investor jangka panjang, periode koreksi ini kerap dijadikan momentum untuk akumulasi melalui strategi Dollar Cost Averaging (DCA), terutama pada aset kripto yang punya fundamental kuat. Namun tetap, risiko pasar global dan kebijakan makroekonomi perlu diperhatikan sebelum mengambil keputusan investasi. (FG12)











