Membaca Pikiran Anda

Jepang Cetak Sejarah, Takaichi & Katayama Jadi Pemimpin Perempuan Pertama, Pasar Saham Pecah Rekor

Berita Jurnalkitaplus – Jepang mencatatkan tonggak sejarah baru dengan terpilihnya Sanae Takaichi sebagai perdana menteri perempuan pertama, menandai era baru kepemimpinan di negeri Sakura. Tidak hanya itu, Takaichi bakal menunjuk Satsuki Katayama sebagai menteri keuangan perempuan pertama dalam kabinetnya—prestasi yang kian menegaskan terobosan perempuan di politik Jepang yang selama ini identik dengan dominasi laki-laki.

Langkah Takaichi ke puncak kekuasaan didorong oleh terjalinnya koalisi baru antara Partai Demokrat Liberal (LDP) dan Partai Inovasi Jepang (Ishin), menggantikan kemitraan panjang dengan Partai Komeito yang berakhir awal bulan ini. Dukungan dari Ishin, meski belum menghasilkan mayoritas mutlak di majelis rendah, tetap memastikan kemenangan Takaichi karena partai-partai oposisi masih terpecah.

“Dengan semangat baru, mari kita majukan Jepang bersama,” ujar Hirofumi Yoshimura, pemimpin Ishin, menandai awal era koalisi reformis tersebut.

Langkah bersejarah ini disambut optimisme di pasar keuangan. Indeks Nikkei 225 terbang ke rekor tertinggi sepanjang masa di 49.882, melonjak 1,42% dalam satu hari dan menjadi reli tiga hari berturut-turut. Saham-saham teknologi seperti SoftBank Group, Yaskawa Electric, dan Fanuc memimpin penguatan berkat ekspektasi stimulus fiskal besar-besaran dan kebijakan suku bunga rendah yang diyakini akan tetap dipertahankan Takaichi.

Menurut Yugo Tsuboi, Kepala Strategi Daiwa Securities, pasar bergerak berdasarkan spekulasi positif terhadap agenda belanja negara yang akan diprioritaskan pemerintah baru, terutama di sektor strategis seperti pertahanan, teknologi, dan energi nuklir.

Namun, tantangan tetap membayangi. Para investor menyoroti ketidakpastian kemampuan koalisi mempertahankan kestabilan di parlemen yang terfragmentasi, serta kesiapan Takaichi dalam merealisasikan janji fiskalnya. Imbal hasil obligasi pemerintah melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun karena kekhawatiran lonjakan belanja negara, sementara yen melemah ke 150,66 per dolar AS.

Penunjukan Takaichi dan Katayama tidak sekadar simbol politik, melainkan juga simbol pecahnya “langit-langit kaca” dalam sejarah pemerintahan Jepang. Kini, seluruh mata tertuju pada kabinet baru ini, menanti langkah-langkah reformasi dan terobosan nyata di bawah kepemimpinan perempuan pertama negeri matahari terbit. (FG12)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *