Membaca Pikiran Anda

Shell Batalkan Proyek Biofuel Raksasa di Belanda: Isyarat Merah untuk Inovasi Biofuel Lokal seperti Bobibos!

Jurnalkitaplus – Raksasa energi global, Shell, secara resmi menghentikan pembangunan pabrik biofuel besar di Rotterdam, Belanda.

Keputusan ini menjadi sorotan tajam di tengah ambisi transisi energi, dan dianggap sebagai isyarat merah bagi pengembang bahan bakar nabati (BBN) di Indonesia, termasuk inovasi lokal yang sedang ramai dibicarakan, Bobibos.

Biaya Tinggi dan Minim Kompetitif Jadi Alasan Shell Mundur

Pembatalan proyek ini, yang sebelumnya sempat tertunda sejak 2024 akibat kendala teknis, diputuskan karena alasan ekonomi yang mendasar.

Menurut Shell, evaluasi terbaru menunjukkan bahwa biaya penyelesaian proyek terlalu tinggi dan fasilitas tersebut dinilai tidak cukup kompetitif untuk memenuhi permintaan pasar biofuel yang terjangkau dan rendah emisi.

Padahal, pabrik ini ditargetkan mampu menghasilkan hingga 820.000 ton biofuel per tahun.Kepala Divisi Energi Terbarukan Shell, Machteld de Haan, menyatakan, “Ketika kami meninjau dinamika pasar dan biaya penyelesaian, jelas bahwa proyek ini tidak cukup kompetitif untuk memenuhi kebutuhan pelanggan akan produk rendah karbon yang terjangkau.”

Keputusan ini menambah daftar panjang proyek energi terbarukan Shell yang batal, menyusul pembatalan rencana fasilitas bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF) di Pulau Bukom, Singapura, pada 2023.

Bobibos dan Inovasi Lokal Wajib Ambil Pelajaran

Di Indonesia, inovasi bahan bakar alternatif tengah menjadi perhatian publik, terutama dengan munculnya Bobibos (Bahan Bakar Original Buatan Indonesia, Bos!). Produk ini dikembangkan dari konversi biomassa, khususnya pemanfaatan jerami menjadi bahan bakar nabati cair.

Namun, pakar energi mengingatkan bahwa kasus Shell dan pabrik biofuel global lainnya harus menjadi cermin penting bagi Bobibos dan inovator sejenis:

  1. Revisi Klaim Biaya Produksi: Bobibos perlu mengkaji ulang klaim biaya produksinya. Inovasi konversi biomassa sering menghadapi tantangan besar dari sisi teknis dan biaya produksi yang tinggi.
  2. Keberlanjutan Ekonomi: Pengalaman global menunjukkan bahwa banyak pabrik biofuel terpaksa tutup karena nilai investasi yang tinggi dan produk yang dihasilkan tidak kompetitif di pasar. Bobibos harus membuktikan bahwa produknya tidak hanya inovatif tetapi juga layak secara ekonomi dan mampu bersaing dengan harga bahan bakar konvensional.

Meskipun Shell menegaskan bahwa biofuel tetap memiliki peran penting dalam transisi energi global, mundurnya raksasa sekelas Shell dari proyek besar menunjukkan betapa sulitnya mencapai kelayakan ekonomi dalam skala industri di sektor biofuel.

Hal ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah dan pengembang inovasi energi terbarukan di Tanah Air.​

Bobibos (Bahan Bakar Original Buatan Indonesia, Bos!) adalah inovasi bahan bakar nabati cair organik berbasis tumbuhan dari Indonesia yang memanfaatkan biomassa seperti jerami untuk diubah menjadi bahan bakar alternatif, hadir dalam dua varian, yaitu Bobibos merah untuk mesin diesel dan Bobibos putih untuk mesin bensin.

Meskipun diklaim sebagai solusi energi yang lebih ramah lingkungan, upaya konversi biomassa ini masih menghadapi tantangan besar dari sisi teknis dan biaya produksi tinggi, yang membuatnya perlu berkaca pada pengalaman pabrik-pabrik biofuel global yang terpaksa tutup karena kurangnya daya saing di pasar.

Pelopor atau Founder dari inovasi bahan bakar Bobibos adalah M. Ikhlas Thamrin.

Beliau dikenal sebagai sosok di balik riset mandiri selama lebih dari 10 tahun untuk menciptakan bahan bakar nabati dari biomassa lokal, khususnya jerami, sebagai upaya untuk mewujudkan kemandirian energi nasional. (FG12)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *