Berita Jurnalkitaplus — Harga Bitcoin anjlok drastis ke bawah level US$87.000 di awal Desember 2025, menandakan gelombang aksi jual terus membayangi pasar aset kripto yang masih rapuh. Lonjakan tekanan jual kali ini membuat Ether dan altcoin populer seperti Solana merosot lebih dari 6% hingga 7%, memperlihatkan kekhawatiran meluas di kalangan investor.
Sejak Oktober, pasar kripto menghadapi tekanan berat yang telah menghapus posisi berbasis leverage sekitar US$19 miliar, membuat Bitcoin yang sempat menyentuh rekor tertinggi US$126.251 harus terkoreksi 16,7% sepanjang November. Meski sempat naik kembali di atas US$90.000 pekan lalu, sentimen jual kembali mendominasi di awal bulan ini.
Kepala Perdagangan Derivatif Asia Pasifik FalconX, Sean McNulty, menyebut sentimen pasar kini condong ke arah “risk off” dengan minimnya dana masuk ke produk ETF Bitcoin dan kurangnya pembeli saat harga turun. Level support kunci yang diwaspadai investor adalah di angka US$80.000. Sementara itu, Strategy Inc., yang memiliki cadangan Bitcoin senilai US$56 miliar, mengindikasikan kesiapan menjual Bitcoin bila rasio market net asset value (mNAV) berbalik negatif, demi menjaga kelangsungan pembayaran dividen.
Tekanan di pasar kripto juga berasal dari penurunan peringkat stabilitas USDT oleh S&P Global Ratings, menambah kekhawatiran risiko undercollateralization jika harga Bitcoin terus jatuh. Di tengah situasi ini, perhatian investor global tertuju pada data ekonomi Amerika Serikat yang akan dirilis, yang diperkirakan akan memengaruhi keputusan suku bunga The Fed.
Dengan kombinasi faktor ini, pasar kripto menghadapi ketidakpastian tinggi dan berpotensi melanjutkan koreksi lebih dalam. Apakah Bitcoin akan mampu bertahan di level kritis atau krisis kripto akan meluas? Semua mata tertuju pada pergerakan harga selanjutnya dalam beberapa pekan ke depan.
Bisnis.com











