Membaca Pikiran Anda

Paus Leo XIV Menggugat Nasionalisme dan Intoleransi: Eropa dan AS Harus Belajar dari Harmoni Kristen-Muslim di Lebanon

Berita Jurnalkitaplus – Pemimpin umat Katolik dunia, Paus Leo XIV, menegaskan kritik keras terhadap sentimen anti-migran dan islamofobia yang tengah menggema di Eropa dan Amerika Serikat. Dalam kunjungannya yang perdana ke Lebanon dan Turki, Paus memberikan gambaran nyata bagaimana kolaborasi damai antara umat Kristen dan Muslim di Lebanon menjadi cermin bagi dunia Barat yang bercerai-berai oleh ketakutan dan prasangka.

Paus Leo, yang berusia 70 tahun dan baru lima bulan menjabat, secara terang-terangan menolak paham nasionalisme eksklusif yang menurutnya menghambat kemanusiaan dan solidaritas global. Dia menyerukan agar ketakutan yang dipicu oleh aktivis anti-migran, yang kerap membangun narasi ketakutan terhadap Islam, segera dihilangkan. Di hadapan media saat penerbangan pulang ke Roma, ia mengingatkan pentingnya dialog dan persahabatan lintas agama sebagai fondasi hidup berdampingan yang damai.

Pesan ini sangat relevan karena di tengah gelombang anti-imigran yang makin keras di Barat, terutama di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, banyak migran dan pengungsi justru mendapat perlakuan tidak manusiawi. Paus Leo mengritik kebijakan dan pola pikir tersebut, yang memperkuat dinding pemisah antar kelas sosial, ras, dan agama.

Lebanon, negara berpenduduk majemuk yang selama ini dijadikan contoh toleransi antaragama, menjadi lokasi simbolik kunjungan Paus Leo. Di sana, ia menyaksikan langsung bagaimana komunitas Kristen dan Muslim saling membantu dan mendukung di masa sulit. Peristiwa ini ia gambarkan sebagai pelajaran bagi seluruh umat manusia agar “mengurangi rasa takut” dan membuka batasan sosial serta keagamaan.

Paus Leo juga mengajak Gereja Katolik untuk tampil sebagai penggerak utama dalam meruntuhkan tembok pemisah tersebut, memperluas konsep persaudaraan yang tidak mengenal diskriminasi. Hal ini sekaligus menjadi tantangan bagi negara-negara Barat untuk mengakhiri kebijakan eksklusi dan memperkuat solidaritas kemanusiaan yang sejati.

Kritikan Paus Leo adalah panggilan penting di tengah dunia yang kian terfragmentasi oleh konflik identitas dan ketakutan akan ‘yang lain’. Jika Eropa dan AS gagal menanggapi pesan ini, bukan saja krisis kemanusiaan yang akan terus memburuk, tetapi juga potensi perpecahan sosial dan eskalasi kebencian yang berbahaya.

Kunjungan Paus dan pernyataannya menegaskan bahwa harmoni antarumat beragama bukan sekadar idealisme, melainkan sebuah kebutuhan mendesak dunia modern untuk bertahan dan berkembang dalam keragaman. (JKP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *