Membaca Pikiran Anda

Akhir Dongeng Sang CEO: Mengapa China Menghapus Romantisme “Crazy Rich” dari Layar Ponsel?

​Berita Jurnalkitaplus – Narasi klasik tentang seorang CEO tampan nan kaya raya yang jatuh cinta pada gadis jelata mungkin telah menjadi “menu wajib” dalam industri hiburan digital dunia. Namun, di China, dongeng modern ini baru saja menemui akhir babaknya. Pemerintah Beijing secara resmi mengetok palu larangan terhadap drama mikro yang mengagungkan tema pernikahan demi harta dan kekuasaan.

​Langkah yang diambil oleh Administrasi Radio dan Televisi Nasional China ini bukan sekadar urusan selera tontonan. Ini adalah pernyataan politik dan sosial yang tegas. China sedang berupaya membersihkan ruang digitalnya dari apa yang mereka sebut sebagai “materialisme yang terdistorsi” dan “hedonisme yang dangkal.”

Perang Melawan Ilusi Kekayaan

Drama mikro yang biasanya dikonsumsi lewat layar vertikal ponsel ini memang candu baru. Dengan durasi hanya satu menit per episode, mereka menawarkan eskapisme murah: kekayaan instan, balas dendam pada kemiskinan, dan cinta yang menyelesaikan segala masalah finansial. Namun, bagi Beijing, konten semacam ini adalah racun bagi nilai-nilai arus utama.

​Pemerintah menilai bahwa memamerkan kekayaan secara berlebihan dan mempromosikan pandangan “mendapatkan sesuatu dengan mudah” dapat merusak persepsi publik, terutama generasi muda, terhadap etos kerja dan kewirausahaan yang sebenarnya. Pengusaha tidak boleh digambarkan hanya sebagai sosok dingin di balik meja mewah yang sibuk dengan urusan asmara absurd, melainkan sebagai pejuang ekonomi yang berakar pada realitas.

Kontrol Ketat di Balik Lisensi

Ketegasan ini tidak berhenti pada sekadar imbauan. Sejak Februari 2025, setiap drama mikro wajib mengantongi lisensi sebelum bisa menyapa penonton. Ini adalah mekanisme sensor yang lebih dalam, memastikan bahwa setiap skrip yang diproduksi selaras dengan agenda moralitas publik yang dicanangkan Partai Komunis.

​Kebijakan ini mengirimkan pesan jelas kepada para kreator konten: kembalilah ke realisme. Ceritakan kisah wirausaha yang nyata, perjuangan dari nol yang jujur, dan hindari menjual mimpi kosong tentang menikahi konglomerat sebagai jalan pintas menuju kebahagiaan.

Isu Kesehatan Mental

Langkah China ini mungkin terdengar ekstrem bagi industri hiburan global yang menjunjung kebebasan berekspresi. Namun, bagi Beijing, menjaga “kesehatan mental” sosial dari polusi gaya hidup mewah adalah harga mati. Kini, panggung drama di China dituntut untuk lebih membumi, karena di bawah pengawasan ketat pemerintah, tidak ada lagi tempat bagi CEO dongeng untuk pamer kekayaan di layar ponsel rakyat. (FG12)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *