Berita Jurnalkitaplus – Indonesia kembali mencuri perhatian dunia. Global Flourishing Study 2025 menempatkan Indonesia di puncak indeks “tumbuh bermakna”, mengalahkan negara-negara yang selama ini identik dengan kemajuan ekonomi. Skor 8,47 menjadi penanda bahwa kebahagiaan versi Indonesia tidak sekadar soal dompet tebal, melainkan jejaring sosial yang hangat dan makna hidup yang kuat.
Namun, euforia angka tak boleh menutup mata dari kenyataan. Studi ini justru membongkar ironi paling telanjang: ketahanan batin berjalan beriringan dengan kerapuhan ekonomi. Dalam aspek stabilitas finansial dan material, Indonesia berada di papan bawah. Artinya, kebahagiaan sosial tumbuh di atas tanah ekonomi yang belum kokoh.
Di sinilah letak pelajaran pentingnya. Indonesia menunjukkan bahwa relasi sosial, religiositas, dan kemampuan berdamai dengan keterbatasan mampu menjadi bantalan psikologis kolektif. Modal sosial ini tak dimiliki semua bangsa. Negara maju sekalipun, seperti Jepang dan Inggris, justru terseok dalam indeks yang sama—sebuah sinyal bahwa kemajuan material tak otomatis melahirkan makna hidup.
Tetapi editorial ini perlu bersikap jujur: ketangguhan batin tidak boleh dijadikan pembenaran atas ketimpangan ekonomi yang terus dibiarkan. Jika negara terlena oleh narasi “rakyat sudah bahagia”, maka kemiskinan, ketidakpastian kerja, dan lemahnya perlindungan sosial berisiko dinormalisasi.
Flourishing sejati semestinya utuh. Kebahagiaan sosial perlu ditopang oleh kebijakan ekonomi yang adil dan berkelanjutan. Tanpa itu, ketahanan batin masyarakat bisa berubah menjadi sekadar mekanisme bertahan hidup, bukan tanda kesejahteraan yang sesungguhnya.
Indonesia memang patut bangga. Namun kebanggaan itu seharusnya menjadi alarm kebijakan, bukan pelipur lara statistik. Karena bangsa yang benar-benar tumbuh bermakna adalah bangsa yang mampu menyatukan kaya batin dan cukup materi, bukan memilih salah satunya. (FG12)











