Membaca Pikiran Anda

Venezuela di Persimpangan: Krisis Keamanan, Diplomasi, dan Minyak

Berita Jurnalkitaplus – Peringatan keras Washington agar warga Amerika Serikat segera meninggalkan Venezuela menegaskan satu hal: krisis keamanan di negeri itu belum berakhir. Ketika kelompok bersenjata nonnegara dilaporkan melakukan razia jalanan dan mencari warga asing, negara telah kehilangan kendali penuh atas rasa aman warganya—dan tamu asing.

Situasi ini ironis. Di satu sisi, Amerika Serikat dan Venezuela sedang membuka kembali pintu diplomasi yang tertutup sejak 2019. Di sisi lain, Departemen Luar Negeri AS justru menilai Venezuela sebagai salah satu negara paling berbahaya di dunia bagi warganya. Diplomasi berjalan, tetapi rasa aman tertinggal jauh di belakang.

Keberadaan kelompok Colectivos—yang selama ini dikenal memiliki relasi ambigu dengan kekuasaan—menjadi simbol rapuhnya supremasi hukum. Negara yang membiarkan kelompok bersenjata melakukan pemeriksaan kendaraan dan intimidasi sipil tidak hanya menghadapi krisis keamanan, tetapi juga krisis legitimasi.

Langkah AS mencabut sebagian sanksi, khususnya di sektor minyak, memperlihatkan realitas geopolitik yang pragmatis. Di tengah krisis energi global dan kepentingan stabilitas kawasan, Venezuela kembali dilihat bukan hanya sebagai negara bermasalah, tetapi juga sumber energi strategis. Namun, pencabutan sanksi tanpa perbaikan nyata pada HAM dan keamanan berisiko mengirim pesan keliru: stabilitas ekonomi boleh didahulukan, meski nyawa dan kebebasan warga masih terancam.

Masalah tahanan politik yang belum terselesaikan memperkuat keraguan tersebut. Ratusan orang masih ditahan, termasuk warga negara asing dan aktivis HAM. Janji pembebasan tahanan sebagai syarat perbaikan hubungan diplomatik harus diuji dengan transparansi dan verifikasi independen, bukan sekadar pernyataan politik.

Venezuela kini berada di persimpangan jalan. Jika pembukaan kembali diplomasi dan pelonggaran sanksi tidak diikuti reformasi keamanan dan penegakan hukum, negara itu hanya akan menjadi contoh bagaimana normalisasi hubungan internasional bisa berjalan di atas fondasi rapuh.

Peringatan AS agar warganya angkat kaki dari Venezuela seharusnya menjadi alarm keras, bukan hanya bagi Washington, tetapi juga bagi Caracas. Sebab negara yang ingin kembali diterima dunia harus terlebih dahulu mampu melindungi manusia di dalam wilayahnya sendiri. (FG12)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *