Membaca Pikiran Anda
Iptek, News  

AI Mengubah Peta Kerja 2026: Antara Peluang Besar dan Kecemasan Tenaga Kerja

Berita Jurnalkitaplus – Pasar tenaga kerja Indonesia memasuki 2026 dengan wajah yang semakin dinamis. Gejolak ekonomi global berpadu dengan laju adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang kian cepat, memaksa dunia kerja menata ulang keterampilan, strategi karier, hingga model organisasi. Generasi muda berada di garis depan perubahan ini: adaptif terhadap teknologi, tetapi sekaligus paling rentan menghadapi pergeseran cepat.

Riset Indonesia AI Report 2025 yang disusun Kumparan dan Populix mencatat, 45 persen perusahaan di Indonesia telah aktif mendorong penggunaan AI. Sektor digital dan media menjadi yang paling progresif, dengan sekitar 55 persen perusahaan telah mengintegrasikan AI ke dalam proses kerja. Di sisi pekerja, 57 persen masyarakat mengaku sudah memanfaatkan chatbot AI generatif untuk menunjang pekerjaan harian. Bahkan, 70 persen responden menilai keterampilan AI yang mereka miliki cukup relevan dengan kebutuhan kerja saat ini.

Namun, optimisme itu berjalan beriringan dengan kecemasan. Sebanyak 95 persen responden percaya AI akan mengubah pekerjaan mereka dalam lima tahun ke depan, dan 68 persen khawatir posisinya bisa tergantikan. Kecemasan ini bukan tanpa dasar, meski sebagian publik juga melihat peluang: 17 persen responden menilai AI akan membuka lapangan kerja baru, sementara 56 persen yakin Indonesia relatif siap menghadapi transformasi teknologi.

Dari sisi ekonomi, potensi AI nyaris tak terbantahkan. Secara global, kontribusinya diperkirakan mencapai 15,7 triliun dolar AS. Bank Dunia bahkan memproyeksikan AI bisa menyumbang hingga 10 persen PDB Indonesia. Pemerintah pun merespons dengan menyusun Peta Jalan Kecerdasan Buatan yang menetapkan 10 bidang prioritas strategis, dari pangan hingga infrastruktur. Namun, pemerintah juga menekankan pentingnya pengembangan AI yang bertanggung jawab, transparan, dan menjunjung nilai kemanusiaan.

Di tingkat praktik, adopsi AI di dunia usaha Indonesia masih didominasi penggunaan dasar. Meski 28 persen perusahaan telah memanfaatkan AI, hanya sekitar 10 persen yang menggunakannya secara strategis untuk inovasi dan penciptaan produk baru. AI lebih sering dipakai untuk tugas-tugas sederhana, bukan transformasi menyeluruh. Dampaknya, lonjakan produktivitas yang dijanjikan belum sepenuhnya terasa.

Para ahli menilai pendekatan hibrida—kolaborasi manusia dan mesin—sebagai jalan paling realistis. AI unggul dalam efisiensi dan otomasi tugas tertentu, tetapi tetap membutuhkan penilaian, kreativitas, dan intuisi manusia. Tantangan utama ke depan bukan lagi soal apakah AI akan mengubah pekerjaan, melainkan seberapa siap tenaga kerja dan perusahaan Indonesia menavigasi perubahan ini secara adil, strategis, dan berkelanjutan.

Tahun 2026 AI bisa menjadi mesin pertumbuhan baru sekaligus sumber ketimpangan baru, tergantung pada arah kebijakan, kesiapan SDM, dan keberanian dunia usaha melampaui sekadar ikut tren. Di sinilah ujian sesungguhnya bagi pasar tenaga kerja Indonesia dimulai. (FG12)

Data sumber : kompas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *