Berita Jurnalkitaplus – Awal tahun 2026 menjadi ujian berat bagi ketangguhan infrastruktur dan mitigasi bencana di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Cuaca ekstrem yang melanda sepekan terakhir bukan sekadar fenomena alam tahunan, melainkan pengingat keras bahwa penanganan banjir tidak bisa lagi dilakukan secara parsial atau “setengah hati”.
Dampak Nyata: Dari Macet hingga Pangan
Lumpuhnya aktivitas warga menjadi potret nyata dampak cuaca ekstrem ini. Di Jakarta, belasan RT dan belasan ruas jalan terendam, menghambat mobilitas pekerja dan transportasi publik seperti Transjakarta serta KAI Commuter.
Namun, dampak lebih luas terlihat di wilayah pesisir dan agraris:
- Jawa Tengah: 8.000 rumah terdampak dan ribuan jiwa harus mengungsi akibat banjir di Pantura.
- Jawa Barat: Keamanan laut terancam dengan potensi gelombang hingga 4 meter, membahayakan nelayan dan kapal kargo.
- Jawa Timur: Longsor di Malang dan Batu menambah daftar panjang kerusakan infrastruktur.
- Ketahanan Pangan: Terendamnya 1.300 hektar sawah dan 200 hektar tambak mengancam nasib petani dan pasokan pangan nasional.
Urgensi Tim Khusus Lintas Provinsi
Langkah Presiden Prabowo Subianto memerintahkan pembentukan tim khusus untuk menangani banjir lintas provinsi dari hulu ke hilir adalah respons yang tepat sasaran. Banjir di Pulau Jawa, terutama yang melibatkan sungai-sungai besar, tidak mengenal batas administrasi. Air yang jatuh di Bogor akan berakhir di Jakarta; luapan sungai di satu kabupaten di Jawa Tengah akan menenggelamkan kabupaten tetangganya.
Penanganan yang terintegrasi berarti sinkronisasi kebijakan antara pemerintah daerah dan pusat, mulai dari reboisasi di wilayah hulu, perbaikan drainase di perkotaan, hingga normalisasi sungai secara menyeluruh.
Cuaca Ekstrem Hingga Akhir Januari
Dengan peringatan dini dari BMKG yang memprediksi cuaca ekstrem akan bertahan hingga akhir Januari, kewaspadaan adalah harga mati. Namun, kewaspadaan tanpa perbaikan sistemik hanya akan membuat kita terjebak dalam siklus bencana yang sama setiap tahun. Tim khusus ini memikul harapan besar masyarakat agar “banjir tahunan” tidak lagi menjadi agenda tetap dalam kalender kehidupan kita. (FG12)











