Membaca Pikiran Anda

Kripto Berdarah, Emas Kian Membara: Kapitalisasi Rp 2.187 Triliun Lenyap dalam Semalam

JAKARTA – Pasar aset kripto global kembali dihantam gelombang aksi jual besar-besaran. Hanya dalam waktu 24 jam, nilai kapitalisasi pasar kripto rontok sebesar 130 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 2.187 triliun. Penurunan tajam ini dipicu oleh sentimen negatif dari otoritas keuangan Amerika Serikat dan pesimisme para manajer investasi kawakan.

​Efek Domino Pernyataan Scott Bessent

​Kejatuhan pasar kripto kali ini dipicu oleh pernyataan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dalam sidang dengar pendapat di Komite Keuangan DPR AS, Kamis (5/2/2026). Bessent menegaskan bahwa Departemen Keuangan tidak memiliki wewenang untuk membeli aset kripto.

​Pernyataan ini dianggap sebagai sinyal keras bahwa pemerintah AS tidak akan memberikan dana talangan (bailout) bagi industri kripto jika terjadi krisis sistemik. Dampaknya instan: Bitcoin (BTC) terkoreksi 7 persen ke level 71.000 dolar AS, level terendah sejak Oktober 2024. Padahal, pada Mei 2025, Bitcoin sempat bertengger di angka 112.000 dolar AS.

​Peringatan dari Michael Burry

​Kecemasan pasar diperparah oleh komentar Michael Burry, manajer investasi yang dikenal akurat memprediksi krisis 2008. Burry menyebut aset kripto hanyalah sarana spekulasi yang tidak memiliki nilai fundamental kuat seperti emas.

​Ia juga memperingatkan adanya gelembung (bubble) pada industri kecerdasan buatan (AI) yang menurutnya ditopang oleh skema utang yang berisiko, sementara potensi penghasilannya belum terlihat jelas.

​”Nilai pasar aset kripto telah hilang 1,7 triliun dolar AS dalam setahun terakhir,” tulis laporan 10X Research. Sebagai perbandingan, angka kehilangan ini lebih besar dari total Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang berada di angka 1.3 triliun dolar AS.

​Emas Jadi Primadona, Targetkan 6.300 Dolar AS

​Berbanding terbalik dengan kripto, harga emas justru kembali menunjukkan taringnya. Setelah sempat terkoreksi di awal Februari, sang logam mulia kembali merangkak naik menuju level psikologis 5.000 dolar AS per troy ounce.

​Faktor Geopolitik dan Kebijakan The Fed

​Harga emas mendapat dukungan dari beberapa faktor kunci:

  • Ketegangan Geopolitik: Meski ada rencana perundingan AS-Iran di Oman, investor masih cenderung memindahkan aset mereka dari bentuk giral ke aset kartal (fisik) seperti emas untuk perlindungan nilai.
  • Transisi Kepemimpinan The Fed: Pencalonan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed menggantikan Jerome Powell menciptakan ketidakpastian di pasar obligasi dan dolar AS. Pasar mengantisipasi kebijakan suku bunga rendah yang biasanya menguntungkan emas.

JPMorgan menyatakan bahwa meskipun terjadi fluktuasi jangka pendek, momentum reli jangka panjang emas tetap terjaga. Pembelian emas masif tidak hanya dilakukan oleh investor ritel, tetapi juga oleh bank-bank sentral dunia yang mulai melepas cadangan valuta asing mereka untuk menambah simpanan emas. (FG12)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *