Membaca Pikiran Anda

Terobosan Genetik: Ilmuwan Texas Siap ‘Hidupkan Kembali’ Burung Dodo yang Punah 300 Tahun Lalu

​Berita Jurnalkitaplus – Ambisi untuk menghidupkan kembali satwa yang telah punah kini selangkah lebih dekat menjadi kenyataan. Colossal Biosciences, sebuah perusahaan bioteknologi yang berbasis di Texas, Amerika Serikat, baru saja mengumumkan terobosan besar dalam proyek de-extinction (kebangkitan spesies) burung dodo.

​Burung dodo (Raphus cucullatus), spesies ikonik asal Pulau Mauritius yang tidak bisa terbang, diketahui telah punah sejak tahun 1662 akibat aktivitas manusia. Namun, berkat kemajuan teknologi genetika, burung ini berpeluang kembali menghuni bumi.

​Terobosan Sel Germinal

​Tim ilmuwan di Colossal Biosciences berhasil mencapai tonggak sejarah dengan menumbuhkan sel germinal primordial (PGC) pada merpati. Sel ini merupakan cikal bakal yang nantinya akan berkembang menjadi sperma dan sel telur.

​Pencapaian ini sangat krusial karena merpati memiliki kekerabatan genetik yang paling dekat dengan burung dodo. Dengan menguasai manipulasi sel reproduksi pada kerabat terdekatnya, para ilmuwan kini memiliki landasan teknis untuk merekayasa genetika burung dodo.

​”Resep kultur sel untuk ayam tidak bekerja pada spesies lain. Penemuan formula khusus untuk merpati ini secara drastis memperluas teknologi reproduksi unggas dan menjadi fondasi utama bagi proyek kebangkitan burung dodo,” ungkap Anna Keyte, Direktur Spesies Unggas di Colossal.

​Didukung Dana Besar dan Selebriti

​Proyek ambisius ini tidak main-main. Colossal Biosciences didukung oleh investasi besar dari berbagai pihak, termasuk nama-nama besar seperti aktor Chris Hemsworth, Nicholas Braun, hingga sosialita Paris Hilton. Saat ini, perusahaan tengah menghimpun dana tambahan sebesar 120 juta dolar AS untuk mendanai riset jangka panjang ini.

​Bukan Hanya Dodo

​Selain burung dodo, Colossal memiliki daftar panjang spesies yang ingin mereka “bangkitkan” dari buku sejarah, antara lain:

  • Mammoth Berbulu: Diprediksi anak mammoth pertama bisa lahir pada tahun 2028.
  • Harimau Tasmania (Thylacine): Predator ikonik asal Australia.
  • Serigala Dire: Perusahaan mengklaim telah berhasil mengombinasikan DNA purba dengan serigala abu-abu modern pada April 2025.
  • Burung Moa Raksasa: Berkolaborasi dengan sutradara ternama Peter Jackson untuk proyek di Selandia Baru.

​Perdebatan Etika

​Meski secara sains pencapaian ini dianggap luar biasa, proyek de-extinction tetap memicu perdebatan hangat di kalangan akademisi. Banyak pihak mempertanyakan dampak etika, risiko terhadap ekosistem modern jika spesies purba kembali dilepaskan, hingga definisi asli dari spesies yang “dihidupkan kembali” tersebut—apakah mereka benar-benar spesies yang sama atau sekadar hibrida rekayasa.

​Kendati demikian, bagi Colossal Biosciences, teknologi ini bukan sekadar tentang membangkitkan masa lalu, melainkan juga mengembangkan alat baru untuk upaya konservasi satwa langka yang saat ini masih hidup namun terancam punah. (FG12)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *