Membaca Pikiran Anda
GenZ, News  

Ironi Gen Z: Sekolah Lebih Lama, Tapi ‘Kalah Cerdas’ dari Milenial?

​Berita Jurnalkitaplus – Sebuah anomali besar tengah membayangi masa depan dunia pendidikan dan ketenagakerjaan. Secara statistik, Generasi Z (Gen Z) tercatat menghabiskan waktu lebih lama di bangku sekolah dibandingkan generasi sebelumnya. Namun, data terbaru justru menunjukkan tren yang mengejutkan: kemampuan kognitif mereka disebut-sebut mulai tertinggal dari generasi Milenial.

​Mengapa investasi waktu yang lebih besar di dunia akademik justru tidak berbanding lurus dengan kecerdasan fungsional?

​’Layar’ yang Menumpulkan Fokus

​Sejumlah ahli saraf dan praktisi pendidikan menyoroti bahwa masalah utama bukan terletak pada kurikulum, melainkan pada cara otak Gen Z memproses informasi. Jared Cooney Horvath, seorang ahli saraf ternama, dalam paparannya menyebutkan bahwa “ledakan” penggunaan perangkat digital sejak tahun 2010 menjadi titik balik penurunan kemampuan kognitif.

​Gen Z mungkin lebih “pintar” mencari informasi di ujung jari, namun mereka mengalami penurunan dalam hal memori jangka panjang, kemampuan membaca mendalam (deep reading), hingga pemecahan masalah yang kompleks.

​”Setengah dari waktu terjaga remaja saat ini dihabiskan di depan layar,” tulis laporan tersebut. Dampaknya? Otak terbiasa menerima informasi dalam potongan pendek (snackable content) yang mengakibatkan rentang perhatian (attention span) merosot tajam.

​Sekolah Lama, Tapi Kurang Interaksi

​Ironi lainnya muncul dari ruang kelas. Meski Gen Z memiliki akses ke teknologi pendidikan tercanggih, kualitas pembelajaran justru menunjukkan tren menurun selama enam dekade terakhir setiap kali teknologi masuk terlalu dominan ke ruang kelas.

​Pembelajaran yang terlalu bergantung pada video ringkasan dan teks digital dianggap gagal menggantikan evolusi alami otak manusia yang membutuhkan interaksi tatap muka dan diskusi mendalam. Milenial, yang tumbuh dalam masa transisi analog-ke-digital, dinilai masih sempat membangun fondasi berpikir kritis melalui literasi fisik yang lebih kuat.

​Tantangan Dunia Kerja

​Kesenjangan ini mulai terasa di dunia kerja. Banyak lulusan baru (Gen Z) yang meski memiliki gelar akademis tinggi, kesulitan dalam melakukan analisis mendalam tanpa bantuan alat digital. Fenomena ini memicu kekhawatiran bahwa mereka akan sulit bersaing di level strategis yang membutuhkan kreativitas orisinal dan ketahanan mental dalam berpikir.

​Jika sistem pendidikan tidak segera kembali pada prinsip dasar interaksi sosial dan literasi mendalam, dikhawatirkan investasi waktu bertahun-tahun di sekolah hanya akan menghasilkan generasi yang “tahu segalanya” secara dangkal, tapi “tidak menguasai apa-apa” secara mendalam.

Editorial Team Notes:

Fenomena ini bukan bermaksud meremehkan potensi Gen Z, melainkan menjadi “alarm” bagi orang tua dan pemangku kebijakan. Bahwa teknologi seharusnya menjadi alat pembantu, bukan pengganti proses kerja otak yang fundamental.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *