Membaca Pikiran Anda

Menanti “Keajaiban” di Balik Tumpukan Sampah Pesisir Sukabumi

​Berita Jurnalkitaplus – Sukabumi dianugerahi garis pantai yang mempesona, mulai dari Pelabuhanratu hingga Ujung Genteng. Namun, keindahan itu kini dibayangi oleh pemandangan yang menyakitkan mata: gunung sampah. Jika dibiarkan, sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah ini bukan lagi sekadar terancam, melainkan sedang menuju titik nadir.

​Ironi di Balik Status UNESCO Global Geopark

​Sangat ironis ketika wilayah yang menyandang status bergengsi seperti UNESCO Global Geopark (CPUGG) masih berkutat dengan masalah fundamental seperti limbah plastik dan sampah domestik. Wisatawan datang mencari ketenangan dan keasrian, bukan untuk berpiknik di atas tumpukan residu rumah tangga.

​Masalah ini bukan sekadar soal estetika. Dampak sistemik dari darurat sampah ini mencakup:

  • Penurunan Daya Saing: Wisatawan akan beralih ke destinasi lain yang lebih bersih.
  • Kerusakan Ekosistem: Mengancam biota laut yang juga menjadi komoditas nelayan lokal.
  • Citra Daerah: Merusak reputasi Sukabumi sebagai destinasi wisata internasional.

​Bukan Hanya Tugas “Petugas Kuning”

​Kita seringkali terjebak dalam pola pikir bahwa sampah adalah tanggung jawab pemerintah semata. Memang, penyediaan sarana prasarana dan ketegasan regulasi adalah mandat negara. Namun, editorial ini ingin menegaskan bahwa perubahan perilaku adalah kunci utama.

​Pemerintah daerah perlu melakukan langkah ekstrem, bukan sekadar seremoni bersih-bersih pantai mingguan. Perlu ada:

  1. Penegakan Hukum (Law Enforcement): Sanksi tipiring bagi pembuang sampah sembarangan harus benar-benar diterapkan, bukan hanya gertakan di papan bicara.
  2. Manajemen Hulu ke Hilir: Sampah di pantai seringkali kiriman dari sungai. Artinya, edukasi warga di sepanjang aliran sungai adalah harga mati.
  3. Kolaborasi Pengusaha: Pelaku usaha hotel dan resto harus memiliki sistem pengolahan limbah yang mandiri dan tersertifikasi.

“Pariwisata berkelanjutan tidak bisa dibangun di atas fondasi sampah. Kita tidak bisa terus-menerus menyalahkan alam saat ombak membawa kembali sampah yang kita buang sendiri ke laut.”

Stop Saling Menyalahkan

Lampu kuning telah menyala. Jika pemerintah, warga, dan wisatawan tidak segera bersinergi, maka narasi “Sukabumi Indah” hanya akan menjadi dongeng bagi generasi mendatang. Kita tidak ingin anak cucu kita nantinya hanya mengenal laut melalui tumpukan plastik yang mereka temukan di pasir pantai.

Sudah saatnya kita berhenti saling menunjuk dan mulai memungut. Karena sejatinya, kebersihan pantai adalah cermin peradaban masyarakatnya. (FG12)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *