Berita Jurnalkitaplus – Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan pengembangan pasukan nuklir sebagai “prioritas mutlak” dalam pidato rekamannya pada Minggu (23/2/2026), bertepatan dengan Hari Pelindung Bumi Air. “Pengembangan triad nuklir yang menjamin keamanan Rusia dan memungkinkan kami secara efektif memastikan pencegahan strategis serta keseimbangan kekuatan dunia tetap menjadi prioritas tanpa syarat kami,” ujar Putin. Pernyataan ini disampaikan kurang dari tiga minggu setelah Perjanjian New START, satu-satunya traktat pengendalian senjata nuklir yang tersisa antara Rusia dan AS, berakhir pada 5 Februari tanpa pengganti.
New START yang ditandatangani pada 2010 membatasi kedua negara hingga 1.550 hulu ledak strategis yang dikerahkan dan 700 rudal balistik antarbenua, rudal balistik diluncurkan kapal selam, serta bom berat. Rusia menangguhkan partisipasinya pada Februari 2023, meski kedua pihak masih mematuhi batas numerik hingga kadaluarsa. Rusia mengusulkan perpanjangan sukarela satu tahun sambil negosiasi pengganti, tapi pemerintahan Trump tidak merespons secara formal. Presiden Trump menyatakan AS harus mengejar “traktat baru yang lebih baik dan dimodernisasi”, dengan Menteri Luar Negeri Marco Rubio menekankan keterlibatan China—yang ditolak Beijing karena arsensalnya hanya sekitar 600 hulu ledak.
Para pakar pengendalian senjata memperingatkan runtuhnya New START, di mana Rusia dan AS menguasai 86% persediaan nuklir dunia menurut Federation of American Scientists, berisiko memicu perlombaan senjata baru. Analisis Carnegie Endowment menyebut tujuan Putin adalah keunggulan atas Barat melalui ancaman nuklir. Dengan negosiasi macet dan Konferensi Tinjau NPT musim semi ini, kerangka pengendalian senjata internasional berada di titik terlemah dalam setengah abad. (FG12)
Sumber : reuters











