Berita Jurnalkitaplus – Kasus campak di Indonesia mengalami lonjakan drastis sejak awal 2026, dengan 8.224 kasus suspek tercatat hingga minggu ke-7, termasuk 572 kasus terkonfirmasi laboratorium di 11 provinsi.
Kementerian Kesehatan melaporkan adanya 21 kejadian luar biasa (KLB) dan 4 kematian, dengan Jawa Barat menjadi wilayah terdampak terparah mencapai 9.033 kasus suspek. Lonjakan ini melanjutkan tren dari 2025 yang mencatat 63 KLB di 16 provinsi, memicu kekhawatiran akan penurunan cakupan vaksinasi MR di bawah target WHO 95%.
Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Gadjah Mada (UGM), Ratni Indrawanti, menekankan bahwa campak bukan penyakit ringan karena berpotensi menimbulkan komplikasi serius seperti pneumonia, radang otak (ensefalitis), diare berat, gangguan pendengaran, kejang, hingga panensefalitis sklerosis subakut yang bersifat jangka panjang.
Risiko ini lebih tinggi pada bayi, anak dengan gizi buruk, dan kelompok tak tervaksinasi, di mana satu pasien mampu menulari hingga 18 orang di sekitarnya. Pakar UGM mendesak peningkatan okupansi vaksinasi untuk mencapai herd immunity guna mencegah penyebaran lebih luas.
Kemenkes telah meluncurkan Outbreak Response Immunization (ORI) di daerah terdampak, sambil mengimbau masyarakat melengkapi imunisasi MMR dua dosis, menghindari kerumunan saat wabah, dan segera periksakan gejala awal seperti demam tinggi disertai ruam.
Ratni menyoroti pentingnya kesadaran publik agar tidak meremehkan campak, yang dapat menurunkan kualitas kesehatan generasi muda secara keseluruhan. Pemerintah diminta memperkuat kampanye vaksinasi nasional untuk mengendalikan situasi ini. | FG12











