Berita Jurnalkitaplus – Krisis energi global kembali bergolak setelah Iran menutup Selat Hormuz menyusul serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel di bawah operasi Epic Fury akhir Februari lalu. Langkah Teheran memblokir jalur laut strategis itu memicu lonjakan harga minyak dan gas dunia, sekaligus mengancam stabilitas pasokan dari kawasan Teluk yang selama ini memasok hampir seperlima kebutuhan energi global. Data Lloyd’s List Intelligence mencatat, lalu lintas pelayaran anjlok hingga 80% hanya dalam sepekan, dengan sedikitnya delapan kapal dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan di laut.
Meski Iran berusaha mempertahankan tekanan, celah dalam blokade mulai tampak. Pasukan Garda Revolusi (IRGC) mengumumkan pengecualian bagi kapal-kapal dengan afiliasi Tiongkok, sementara armada Amerika dilaporkan berhasil mengawal satu kapal tanker menembus jalur tersebut. Aktivitas pengiriman minyak Iran pun diam-diam terus berjalan, dengan lebih dari 11 juta barel berhasil diekspor sejak konflik dimulai. Namun, lonjakan biaya angkut supertanker — yang melonjak hampir dua kali lipat — menandakan ketegangan masih jauh dari usai.
Arah pasar global tiba-tiba berbalik ketika Presiden Donald Trump menyiratkan peluang deeskalasi. Dalam wawancara dengan CBS, Trump menyebut konflik sudah “sangat lengkap,” menandakan potensi langkah diplomatik yang diperkuat usulan damai dari Presiden Rusia Vladimir Putin. Harga minyak Brent yang sempat menembus 80 dolar AS per barel mulai turun tajam. Meski begitu, Iran tetap menegaskan bahwa “akhir perang hanya akan ditentukan Teheran,” sementara pasukan Amerika Serikat terus menjaga jalur vital tersebut dari potensi serangan baru. | FG12











