Bereita Jurnalkitaplus – Konflik Iran yang memanas dua minggu sejak serangan AS-Israel pada 28 Februari telah mengganggu alur perdagangan dunia melalui penutupan Selat Hormuz. Lima eksportir pupuk utama di Teluk—termasuk Iran, Arab Saudi, Qatar, UEA, dan Bahrain—menyumbang sepertiga perdagangan urea global, menurut International Fertilizer Association.
QatarEnergy menghentikan produksi di kompleks Ras Laffan, pusat LNG dan pupuk terbesar dunia, akibat serangan drone Iran. India, importir 40% urea dari Timur Tengah, kini kesulitan pasokan gas untuk pabrik pupuknya, sementara China menghadapi ancaman serupa dengan 90% impor minyak mentahnya lewat rute tersebut.
Di sektor konsumen India, industri air minum kemasan senilai US$5 miliar tertekan parah menjelang musim panas. Lebih dari 2.000 produsen kecil naikkan harga 5% ke distributor, dengan kenaikan 10% lagi diprediksi, kata Apurva Doshi dari Federation of All India Packaged Drinking Water Manufacturers’ Association. Harga minyak melonjak dorong biaya polimer untuk botol plastik naik, memengaruhi juga FMCG lain dengan 10-15% input dari turunan minyak mentah. Produsen beralih ke Asia Tenggara untuk sumber polimer, tapi kekacauan harga tak terelakkan.
Sementara itu, pariwisata Australia lumpuh akibat gangguan penerbangan Teluk. Survei Australian Tourism Export Council tunjukkan 70% operator tur dapat pembatalan dari Eropa, bergantung hub seperti Dubai, Doha, dan Abu Dhabi. Emirates, Qatar Airways, dan Etihad batalkan rute besar, Qantas alihkan Perth-London via Singapura. Dean Long dari Australian Travel Industry Association bilang situasi dinamis ini rusak operasi penerbangan, wisatawan Eropa tunda kunjungan hingga 2027 atau pilih destinasi dekat. | FG12











