Membaca Pikiran Anda

Bye-bye Baju Bekas Impor! Pemerintah Siapkan ‘Jurus Maut’ Agar Pedagang Thrifting Tetap Cuan

Berita Jurnalkitaplus – Era kejayaan baju bekas impor atau thrifting ilegal tampaknya benar-benar berada di ujung tanduk. Pemerintah tidak main-main dalam memberantas impor pakaian bekas, namun kali ini dengan pendekatan yang berbeda. Bukan sekadar melarang, pemerintah kini tengah “menggodok” aturan main baru yang diklaim sebagai win-win solution.

​Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman, mengungkapkan bahwa pemerintah sedang menyiapkan skema transisi. Tujuannya jelas: menyetop aliran barang ilegal tanpa membuat pedagang kecil gulung tikar.

Bukan Mematikan, Tapi Mengalihkan

​Pemerintah menyadari bahwa tindakan represif semata bisa mematikan asap dapur ribuan pedagang di pasar-pasar thrifting populer. Oleh karena itu, strategi yang diambil adalah substitusi atau penggantian.

​”Semangat kami adalah bagaimana teman-teman yang selama ini berjualan baju bekas impor (ilegal), pelan-pelan kita geser untuk berjualan produk lokal,” ujar Maman.

Janjikan Akses Modal dan Barang Murah

​Lantas, bagaimana caranya agar pedagang mau beralih? Bukankah produk lokal sering dianggap lebih mahal?

​Di sinilah letak “jurus maut” pemerintah. Kementerian UMKM berencana menghubungkan langsung para pedagang thrifting dengan produsen atau konveksi lokal. Dengan memotong rantai distribusi, pedagang dijanjikan bisa mendapatkan stok baju baru buatan anak bangsa dengan harga yang sangat kompetitif, bahkan bersaing dengan harga modal baju bal-balan impor.

​Tak hanya itu, pemerintah juga mengiming-imingi akses pembiayaan. Pedagang yang bersedia “tobat” dan beralih menjual produk lokal akan diprioritaskan untuk mendapatkan bantuan modal, termasuk akses ke Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Menyelamatkan Industri Tekstil Tanah Air

​Langkah ini diambil di tengah gempuran produk impor yang membuat industri tekstil dalam negeri “berdarah-darah”. Dengan skema ini, pemerintah berharap pasar domestik kembali dikuasai oleh produk UMKM lokal, sementara para pedagang tetap bisa menjaga omzet mereka tetap ngebul.

​Apakah strategi “ganti baju” ini akan berhasil menarik minat para pedagang Pasar Senen dan sekitarnya? Kita tunggu realisasinya dalam waktu dekat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *