Berita Jurnalkitaplus – Memasuki penghujung tahun, pemerintah dan pelaku usaha kembali menaruh harapan besar pada diskon belanja sebagai penggerak konsumsi rumah tangga. Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tekanan daya beli, periode Natal dan Tahun Baru dipandang sebagai momentum strategis untuk menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional.
Beragam program diskon digelar serentak, baik di pusat perbelanjaan maupun platform digital. Pusat-pusat ritel menggelar midnight sale, year end sale, hingga kampanye belanja nasional yang menawarkan potongan harga signifikan. Di ruang digital, platform niaga-el memperkuat promosi melalui flash sale, gratis ongkos kirim, dan insentif pembayaran.
Pemerintah berharap, rangkaian promo tersebut mampu mendorong belanja masyarakat, mengingat konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama perekonomian nasional. Kontribusi konsumsi domestik terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia selama ini berada di kisaran lebih dari 50 persen, sehingga pergerakannya sangat menentukan kinerja ekonomi secara keseluruhan.
Namun, optimisme itu tetap dibayangi tantangan. Kenaikan harga kebutuhan pokok, beban cicilan, serta sikap hati-hati masyarakat dalam membelanjakan uang membuat dampak diskon tidak selalu seagresif yang diharapkan. Sejumlah konsumen kini lebih selektif, memanfaatkan diskon hanya untuk kebutuhan prioritas, bukan konsumsi impulsif seperti pada masa sebelum pandemi.
Di sisi lain, diskon juga menjadi ujian bagi pelaku usaha. Strategi banting harga memang dapat mendongkrak volume penjualan dalam jangka pendek, tetapi berisiko menekan margin keuntungan. Karena itu, pelaku ritel dituntut lebih kreatif, mengombinasikan promo harga dengan pengalaman belanja, kualitas layanan, serta inovasi produk agar konsumsi yang tercipta bersifat berkelanjutan.
Pada akhirnya, diskon akhir tahun bukan sekadar soal murahnya harga, melainkan upaya menjaga denyut ekonomi tetap hidup di tengah situasi yang belum sepenuhnya pulih. Jika dikelola dengan tepat, momentum ini dapat menjadi jembatan menuju awal tahun yang lebih optimistis—bagi konsumen, pelaku usaha, maupun perekonomian nasional secara keseluruhan. (FG12)











