Berita Jurnalkitaplus – Gletser Thwaites di Antartika Barat, yang dijuluki “Doomsday Glacier” atau Gletser Kiamat, menunjukkan tanda-tanda runtuh katastrofik akibat retakan besar yang terus melemahkan struktur esnya.
Studi terbaru dari International Thwaites Glacier Collaboration (ITGC) mengungkap bahwa retakan di zona geser glacier ini telah meluas dari 100 mil menjadi lebih dari 200 mil panjang totalnya selama dua dekade terakhir, meski panjang rata-rata retakan menurun akibat tekanan baru yang ekstrem.
Penelitian satelit dari 2002 hingga 2022 oleh tim University of Manitoba menegaskan integritas struktural glacier semakin rapuh, mempercepat mundurnya hingga berpotensi picu kenaikan muka air laut global hingga 11 kaki atau sekitar 3,3 meter.
Dampak Potensial bagi Dunia
Jika Gletser Thwaites runtuh sepenuhnya, ia bisa memicu efek domino pada gletser tetangga, mengancam puluhan juta jiwa di wilayah pesisir seperti Indonesia yang rentan banjir rob dan abrasi pantai.
Laporan ITGC 2025 menyatakan mundur glacier ini telah “mempercepat secara signifikan selama 40 tahun terakhir”, dengan proyeksi retret lebih cepat hingga abad ke-22 meski kolaps total belum terjadi dalam dekade mendatang.
Suhu samudra yang memanas juga menggerus dasar es dengan arus pusaran hingga lebar 6 mil, memperburuk erosi harian yang terdeteksi melalui kapal pemecah es dan robot bawah air.
Temuan Ilmiah Terkini
Data satelit menunjukkan fraktur progresif di sekitar zona geser hulu titik penahan glacier, yang mengurangi kestabilannya secara bertahap.
Selain itu, ratusan “gempa es” atau iceberg earthquakes terdeteksi di ujung laut Thwaites, dengan 245 dari 362 kejadian terkonsentrasi di area kritis, menandakan potensi disintegrasi cepat.
Penelitian ITGC sejak 2018, melibatkan British Antarctic Survey dan NSF AS, mengonfirmasi laju pencairan yang tak terelakkan akibat emisi gas rumah kaca yang terus memecahkan rekor.
Panggilan Mendesak untuk Aksi GlobalSituasi “suram” ini menuntut percepatan pengurangan emisi karbon duniawi, termasuk komitmen Indonesia dalam COP yang akan datang untuk mitigasi iklim.
Para ilmuwan menekankan perlunya pemantauan intensif dan inovasi geoengineering, karena prognosis glacier ini “tidak bagus” dan bisa ubah peta bencana global.
Dunia tak boleh tunggu doomsday nyata; aksi sekarang jadi kunci selamatkan generasi mendatang dari banjir dahsyat. (Futurism.com)











