Berita Jurnalkitaplus – Kebijakan Work From Mall (WFM) yang belakangan ini didorong sebagai strategi menghidupkan ekonomi perkotaan bagaikan pedang bermata dua.
Di satu sisi, mal tampak kembali bergairah dengan hiruk-pikuk pengunjung yang membawa laptop dan berkumpul di area publik. Namun, di sisi lain, fenomena ini memunculkan kekhawatiran baru bagi para pelaku usaha: keramaian semu yang tidak berbanding lurus dengan angka penjualan.
Terjebak dalam Fenomena “Rojali” dan “Rohana”
Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, memberikan peringatan keras. Tanpa daya beli yang kuat, WFM hanya akan menyuburkan fenomena Rojali (Rombongan Jarang Beli) dan Rohana (Rombongan Hanya Nanya).
Mal mungkin penuh sesak, namun kasir-kasir toko ritel tetap sepi. Pengunjung cenderung datang hanya untuk memanfaatkan fasilitas seperti pendingin ruangan (AC), koneksi internet, atau sekadar mencari suasana baru untuk bekerja tanpa niat untuk berbelanja secara impulsif.
Stimulus Musiman yang Belum Merata
Kebijakan ini juga dinilai hanya bersifat stimulus musiman, terutama saat momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Dampaknya pun tidak merata, hanya terkonsentrasi di kota-kota besar dengan infrastruktur mal yang lengkap dan menyasar segmen menengah ke atas.
Bagi ekonomi nasional secara makro, WFM belum bisa menjadi motor penggerak yang stabil jika hanya mengandalkan kunjungan fisik tanpa adanya transaksi yang signifikan.
Tantangan Daya Beli Masyarakat
Akar masalahnya terletak pada daya beli. Di tengah tekanan biaya hidup yang terus merangkak naik, masyarakat menjadi jauh lebih selektif.
Meskipun mereka “bekerja dari mal”, prioritas pengeluaran tetap tertuju pada kebutuhan primer. Jika pendapatan riil tidak membaik, maka secanggih apa pun konsep yang ditawarkan pengelola mal, pengunjung tetap akan berperan sebagai penonton ketimbang pembeli.
Kesimpulannya, pengelola mal dan pemerintah tidak boleh terlena dengan data kunjungan yang meningkat.
Tantangan utamanya adalah bagaimana mengubah “keramaian” menjadi “transaksi”. Jika tidak ada strategi untuk meningkatkan daya beli atau memberikan insentif belanja yang menarik, WFM hanya akan menjadi panggung bagi kerumunan tanpa dampak ekonomi yang nyata.
Apakah Anda ingin saya mengembangkan bagian strategi bagi pengelola mal agar bisa mengonversi pengunjung “Rojali” menjadi pembeli aktif? (FG12)











