Jurnalkita+ Situasi politik Venezuela mendadak memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa militer AS telah melancarkan serangan besar-besaran ke negara tersebut dan menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Pernyataan mengejutkan itu disampaikan Trump pada Sabtu (3/1/2026) waktu setempat melalui media sosial Truth Social.
Ketika Hukum Rimba Mengibarkan Bendera Demokrasi
Pagi ini dunia terbangun oleh kabar sensasional: Presiden Venezuela Nicolas Maduro diseret keluar dari istana, bukan oleh rakyatnya, melainkan oleh kekuatan militer negara adidaya. Bukan lewat resolusi, bukan lewat pengadilan internasional, melainkan lewat otot, drone, dan dalih “demi demokrasi”.
Jika itu terjadi atau bahkan sekadar dianggap wajar, maka satu pesan terang-benderang dikirim ke dunia: hukum internasional telah dipensiunkan, digantikan hukum rimba versi modern. Negara kuat kini tak lagi sekadar memberi sanksi, tetapi merasa berhak bertindak “kumaha aing”.
Inilah a dangerous world order, di mana aturan bukan ditegakkan, melainkan dipilih sesuai kepentingan. Lalu di mana Dewan Keamanan PBB? Apakah ia akan kembali ke ritual tahunan: rapat darurat, pernyataan keprihatinan, lalu veto yang menutup tirai?
Bagaimana dengan G7? Akankah mereka mengecam pelanggaran kedaulatan dengan suara lantang, atau justru menyebutnya “langkah tegas demi stabilitas global”? Dalam kamus geopolitik, stabilitas sering kali berarti stabil bagi siapa.
Amerika Latin pun diuji. Kawasan yang punya memori panjang tentang intervensi, kudeta, dan “bantuan” bersenjata. Apakah solidaritas regional akan bangkit, atau trauma lama kembali membuat mereka memilih diam, karena diam terasa lebih aman?
Bagi Indonesia, inilah ujian sejati politik luar negeri bebas aktif, bukan bebas memilih diam, bukan aktif mengikuti arus. Bebas aktif yang berlandaskan prinsip menuntut keberanian untuk berkata tidak pada ketidakadilan, meski pelakunya adalah sekutu kuat. Menuntut konsistensi: menolak hukum rimba, siapa pun yang mengibarkannya.
Jika dunia benar-benar bergerak ke arah ini, maka pertanyaannya bukan lagi “siapa berikutnya?”, melainkan apakah masih ada yang berani menjaga aturan, atau kita semua bersiap hidup di rimba, sambil berharap tak menjadi mangsa. (AR – 11)











