Membaca Pikiran Anda

Mendesak, Pembaruan Napas Baru Mitigasi Bencana Indonesia

​Berita Jurnalkitaplus – Indonesia sedang berada di titik krusial dalam upaya penyelamatan jiwa dari ancaman bencana alam. Suara para pakar kini bergema kencang, mendesak pemerintah untuk segera merombak total pedoman Kajian Risiko Bencana (KRB) yang dianggap sudah “kadaluwarsa”.

​Selama 13 tahun terakhir, Indonesia bersandar pada Peraturan Kepala (Perka) BNPB No. 2 Tahun 2012. Namun, di tengah perubahan iklim yang ekstrem dan dinamika geologi yang kian tak terprediksi, aturan lama tersebut dinilai tidak lagi mampu memotret kompleksitas risiko bencana saat ini.

Lompatan Berbasis Sains

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merespons kegelisahan ini dengan menyusun Rancangan Peraturan Badan (Ranperban) baru. Langkah ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan sebuah kebutuhan eksistensial. Para akademisi, termasuk dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), menekankan bahwa KRB masa depan harus “berbicara” melalui data.

​Inti dari revisi ini adalah penguatan landasan ilmiah. Tidak cukup lagi hanya melihat pola lama; pedoman baru harus mengintegrasikan data geologi mutakhir, analisis hidrometeorologi yang presisi, hingga proyeksi dampak perubahan iklim jangka panjang. Tanpa data yang akurat, mitigasi hanyalah tebakan yang berisiko fatal.

Standardisasi untuk Keselamatan

Selain aspek teknis, revisi ini bertujuan untuk menyelaraskan metodologi di seluruh wilayah Indonesia. Selama ini, perbedaan interpretasi data sering kali menghambat koordinasi penanganan bencana. Dengan pedoman yang lebih mutakhir dan terstandarisasi, pemerintah daerah diharapkan memiliki “kompas” yang lebih tajam dalam memetakan bahaya di wilayah mereka masing-masing.

Langkah BNPB membuka ruang diskusi bagi para praktisi dan ahli dalam penyusunan Ranperban ini adalah angin segar. Namun, tantangan sesungguhnya adalah memastikan aturan baru ini tidak hanya berakhir di atas kertas, tetapi benar-benar menjadi fondasi kuat bagi Indonesia yang lebih tangguh menghadapi bencana. Menunda revisi berarti membiarkan jutaan nyawa bergantung pada peta usang yang tak lagi relevan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *