Berita Jurnalkitaplus — Saham-saham emiten pertambangan dan perdagangan emas di Bursa Efek Indonesia (BEI) kompak melejit tajam pada perdagangan hari ini, Senin (5/1/2026), menyusul guncangan geopolitik global pasca Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan membawanya ke New York untuk menghadapi proses hukum. Peristiwa ini memicu respons pasar yang kuat di seluruh dunia, termasuk lonjakan harga emas dan saham tambang terkait logam mulia.
Pasar domestik membuka sesi perdagangan baru dengan sentimen tinggi setelah berita penangkapan Maduro menyebar. Saham emiten tambang emas seperti PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) tercatat naik signifikan, mencerminkan reli yang jelas dari investor yang mencari aset “safe haven” di tengah ketidakpastian geopolitik.
Lonjakan harga emas dunia juga menjadi pendorong utama. Data pasar internasional menunjukkan harga emas naik lebih dari 2% dalam perdagangan Senin pagi di Eropa, menggarisbawahi permintaan investor terhadap logam mulia sebagai perlindungan nilai di tengah gejolak politik dan ekonomi global.
Gejolak geopolitik yang dipicu oleh aksi militer AS ini tidak hanya memicu reli di sektor emas, tetapi juga menimbulkan gelombang reaksi di pasar finansial global. Di bursa saham Eropa dan Asia, saham pertambangan dan sekuritas defensif lainnya mengalami kenaikan seiring investor beralih dari aset berisiko. Indeks FTSE 100 Inggris sempat menembus angka kunci didorong oleh reli saham pertambangan dan pertahanan.
Namun, dampak ke pasar tidak sepenuhnya seragam. Harga minyak dunia justru menunjukkan tren stagnan hingga sedikit menurun, meski awalnya terpicu oleh optimisme kemungkinan akses baru ke cadangan minyak besar Venezuela. Analis menilai bahwa kerusakan infrastruktur industri minyak Venezuela dan ketidakpastian jangka panjang membuat prospek produksi kembali ke level tinggi masih jauh dari jangkauan.
Respons investor terhadap peristiwa geopolitik ini juga memengaruhi mata uang negara berkembang. Beberapa analis memprediksi tekanan pada nilai tukar rupiah, seiring arus modal keluar menuju aset aman seperti dollar AS dan emas, yang pada gilirannya menambah dinamika dalam pasar domestik. (FG12)










