Membaca Pikiran Anda

Kala Komedi Menjadi Parlemen: Mens Rea dan Demokrasi yang Gelisah

Berita Jurnalkitaplus – Pandji Pragiwaksono tahu betul apa yang sedang ia lakukan. Di atas panggung Indonesia Arena, ia tidak sekadar melucu. Dengan frasa “menurut keyakinan saya…”, ia membangun benteng sekaligus senjata: humor sebagai alat kritik, dan keyakinan personal sebagai tameng dari represi.

Mens Rea menandai satu bab penting dalam demokrasi Indonesia hari ini. Ketika ruang diskusi formal kian steril, parlemen terasa jauh dari denyut publik, dan bahasa politik makin teknokratis, panggung stand-up comedy justru menjelma parlemen jalanan. Tawa menjadi medium, satire menjadi bahasa, dan keresahan publik menemukan suaranya.

Tak mengherankan bila pertunjukan berdurasi 2,5 jam ini bukan hanya memecahkan rekor penonton langsung, tetapi juga menduduki puncak tayangan Netflix Indonesia. Yang ditonton publik bukan semata komedi, melainkan kejujuran yang dibungkus humor—sesuatu yang kian langka dalam pidato resmi negara.

Namun, respons terhadap Mens Rea juga mengungkap wajah lain demokrasi kita: kegugupan terhadap kritik. Laporan hukum yang menjerat Pandji menunjukkan betapa tipisnya batas toleransi sebagian pihak terhadap satire. Padahal, seperti ditegaskan LBH Jakarta, menghukum seniman atas ekspresi kritik bukan hanya keliru, melainkan ancaman nyata terhadap hak asasi manusia.

Kritik lewat seni selalu berada di “pinggir jurang”. Tapi justru di sanalah demokrasi diuji. Jika satire dibungkam, maka yang tersisa hanyalah monolog kekuasaan. Pendapat akademisi yang menyebut Mens Rea sebagai residu kemacetan komunikasi politik patut direnungkan: ketika negara gagal mendengar, rakyat akan berbicara lewat cara lain.

Di zaman yang penuh dengan kegamangan politik, di mana rakyat terus mencari ruang berpikir kritis, bukan untuk mengumpat, tapi justru mentertawakan kekuasaan dan otoritarianisme dibalik drama politik yang disusupi niat niat yang tak pasti. Panggung Mens Rea menjadi sisi lain cerminan diri untuk memahami apa yang terjadi di negeri ini.

Dalam demokrasi yang sehat, komika tak seharusnya ditarik ke meja hijau. Justru kekuasaanlah yang perlu bercermin, mungkin sambil belajar tertawa—pada dirinya sendiri. (FG12)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *