Berita Jurnalkitaplus – Dunia kecerdasan buatan (AI) saat ini tengah berada dalam euforia Large Language Models (LLM). Namun, di tengah hiruk-pukuk tersebut, salah satu “Godfather of AI”, Yann LeCun, justru mengambil langkah yang mengejutkan industri. Lewat perusahaan barunya yang berbasis di Paris, AMI Labs, LeCun secara terang-terangan “bertaruh” melawan arus utama yang mendewakan model bahasa besar.
Dalam wawancara eksklusif dengan MIT Technology Review, peraih Turing Award ini menegaskan keyakinannya bahwa teknologi AI yang kita gunakan saat ini—termasuk ChatGPT maupun Gemini—telah mencapai titik jenuh. Baginya, sekadar memprediksi kata berikutnya dalam sebuah kalimat tidak akan pernah membawa manusia menuju Kecerdasan Buatan Tingkat Manusia (Artificial General Intelligence atau AGI).
Mengapa LLM Dianggap Gagal?
Menurut LeCun terhadap arsitektur AI saat ini, LLM hanyalah sebuah sistem statistik canggih yang tidak memiliki pemahaman nyata tentang realitas fisik.
”Model bahasa besar tidak benar-benar mengerti dunia,” adalah narasi yang konsisten ia sampaikan. LeCun mengidentifikasi tiga kelemahan fatal pada LLM:
- Ketidakhadiran Penalaran: AI saat ini tidak bisa merencanakan langkah demi langkah secara logis.
- Ketiadaan Model Dunia: LLM tidak memahami hukum fisika dasar yang bahkan dipahami oleh seekor kucing.
- Memori yang Dangkal: Sistem saat ini hanya bekerja berdasarkan konteks terbatas, bukan pembelajaran jangka panjang yang permanen.
AMI Labs: Ambisi Membangun “Otak” yang Berbeda
Melalui AMI Labs, LeCun tidak ingin membangun LLM yang lebih besar. Sebaliknya, ia fokus pada arsitektur yang ia sebut sebagai Joint-Embedding Predictive Architecture (JEPA).
Tujuannya sangat ambisius: menciptakan AI yang belajar melalui observasi, mirip dengan cara bayi manusia memahami dunia sebelum mereka bisa berbicara. Jika LLM belajar dari teks, AMI Labs ingin AI belajar dari video dan sensor, membangun “model dunia” internal yang memungkinkannya memprediksi konsekuensi dari sebuah tindakan.
Pertaruhan Berisiko Tinggi
Langkah LeCun mendirikan AMI Labs di Paris bukan tanpa alasan. Ibu kota Prancis tersebut kini bertransformasi menjadi pusat gravitasi AI di Eropa, bersaing ketat dengan Silicon Valley. Namun, tantangannya tidak mudah.
Jika industri berhasil membuktikan bahwa LLM bisa mencapai penalaran tingkat tinggi hanya dengan menambah skala data (scaling laws), maka taruhan LeCun akan kalah. Namun, jika pertumbuhan LLM benar-benar mentok pada plafon tertentu—sebagaimana yang mulai dirasakan banyak peneliti saat ini—maka AMI Labs mungkin adalah masa depan yang sebenarnya.
Era Baru AI Yang Cerdas
Dunia teknologi membutuhkan sosok kontrarian seperti Yann LeCun agar tidak terjebak dalam satu jalur pemikiran saja. Apakah AMI Labs akan menjadi awal dari era baru AI yang lebih cerdas dan fungsional, atau hanya sekadar eksperimen mahal yang gagal menggoyahkan dominasi LLM? Hanya waktu yang akan menjawab.
Satu hal yang pasti: taruhan besar telah dimulai di Paris. (FG12)
Sumber : technologyreview.com











