Membaca Pikiran Anda

Krisis Utang Global Menghantui, Harga Emas Tembus Rekor Fantastis US$ 5.000

​Berita Jurnalkitaplus – Pasar keuangan global dikejutkan dengan lonjakan harga emas yang mencetak sejarah baru. Pada Senin (26/1/2026) siang WIB, harga logam mulia ini resmi melampaui level psikologis US$ 5.000, tepatnya bertengger di angka US$ 5.087 per troy ounce.

​Kenaikan ini memicu alarm kewaspadaan di kalangan ekonom. Robin Brooks, ekonom dari Brookings Institution, menyebut fenomena ini sebagai tanda awal terjadinya krisis utang global yang serius.

​”Kenaikan harga logam mulia sangat mencengangkan dan sangat menakutkan. Kita berada di awal krisis utang global, di mana pasar khawatir pemerintah akan mencoba mengatasi utang yang tidak terkendali melalui inflasi,” ujar Brooks.

​Fenomena ‘Debasement Trade’

​Lonjakan harga emas, perak, dan platinum ini dinilai sebagai respons investor terhadap pelemahan nilai uang kertas akibat utang pemerintah yang menggunung. Fenomena ini kerap disebut sebagai debasement trade.

​Istilah tersebut merujuk pada kondisi di mana pencetakan uang giral dilakukan secara masif untuk menutupi utang, sehingga jumlah uang beredar melampaui pertumbuhan ekonomi riil. Akibatnya, pemilik dana berbondong-bondong memindahkan aset mereka ke “aset keras” (hard assets) seperti emas demi keamanan.

​Saat ini, utang Pemerintah Amerika Serikat (AS) tercatat mencapai US$ 38,5 triliun. Di sisi lain, tekanan hebat juga melanda pasar obligasi di negara-negara dengan rasio utang tinggi, termasuk Jepang.

​Guncangan dari Negeri Sakura

​Selain AS, fokus investor kini tertuju pada Jepang. Selama bertahun-tahun, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Jepang berada di level nyaris nol. Namun, pada Januari 2026, angkanya melonjak hingga melebihi 2%, bahkan untuk tenor panjang (30-40 tahun) mencapai di atas 4,2%.

​Ketidakpastian ini dipicu oleh kebijakan Perdana Menteri Sanae Takaichi yang menjanjikan pemangkasan pajak sekaligus peningkatan stimulus. Langkah ini dikhawatirkan akan menambah tumpukan utang Jepang yang saat ini sudah mencapai 250% dari PDB.

​”Situasi fiskal menyebabkan masalah kredibilitas,” tegas Shinji Kunibe, manajer portofolio utama di Sumitomo Mitsui DS Asset Management Co.

​Ancaman ‘Repatriasi’ Modal ke Jepang

​Kenaikan imbal hasil obligasi Jepang menimbulkan risiko “tsunami” ekonomi bagi negara lain. Selama ini, investor Jepang memarkir dana sekitar US$ 5 triliun di luar negeri karena bunga di dalam negeri yang rendah.

​Kini, dengan naiknya bunga domestik, tren repatriasi atau pemulangan modal mulai terlihat. Lembaga keuangan besar seperti Sumitomo Mitsui Financial Group Inc dan Meiji Yasuda Life Insurance mulai menyatakan minatnya untuk menarik dana dari luar negeri dan beralih ke Obligasi Pemerintah Jepang (JGB).

​”Ini baru permulaan, akan ada peluang guncangan lebih besar,” kata Masayuki Koguchi dari Mitsubishi UFJ Asset Management.

​Jika pemulangan modal ini terjadi secara masif, aliran likuiditas global bisa terganggu, memperparah pelemahan nilai tukar mata uang terhadap emas, dan semakin mengukuhkan posisi emas sebagai satu-satunya pelabuhan aman di tengah badai ekonomi 2026. (FG12)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *