JAKARTA – Memperingati Hari Kanker Sedunia yang jatuh pada 4 Februari 2026, dunia medis global memberikan sorotan tajam pada satu musuh tersembunyi selain sel kanker itu sendiri: kesenjangan data (data disparities). Meskipun teknologi medis telah berkembang pesat, distribusi akses informasi dan hasil penelitian dinilai masih belum merata, meninggalkan pasien di negara berkembang dan kelompok minoritas dalam posisi yang tidak menguntungkan.
Jurang Lebar dalam Basis Data Kanker
Laporan terbaru menyoroti bahwa sebagian besar data genomik dan hasil uji klinis yang digunakan untuk mengembangkan pengobatan kanker modern masih didominasi oleh populasi dari negara-negara berpenghasilan tinggi.
Kondisi ini menciptakan masalah serius dalam efektivitas pengobatan. Tanpa data yang inklusif, terapi “precision medicine” atau pengobatan presisi berisiko hanya efektif untuk kelompok tertentu, sementara kelompok etnis lain mungkin tidak mendapatkan respon medis yang serupa.
Dampak Kesenjangan pada Pasien
Menurut para ahli, kesenjangan data berdampak pada beberapa aspek krusial:
- Diagnosis yang Terlambat: Kurangnya data skrining pada populasi tertentu membuat pola kanker spesifik sering kali luput dari deteksi dini.
- Akses Terapi Modern: Inovasi seperti imunoterapi sering kali tidak diuji pada populasi yang beragam, sehingga efikasinya pada kelompok di luar data primer tetap menjadi tanda tanya.
- Biaya Kesehatan: Kesenjangan informasi menyebabkan inefisiensi dalam penanganan medis, yang akhirnya memperberat beban finansial pasien di wilayah tertinggal.
Menuju Masa Depan: AI dan Integrasi Data Global
“Kita tidak bisa memenangkan perang melawan kanker jika kita hanya memiliki peta dari separuh medan tempur. Inklusivitas data bukan sekadar soal statistik, tapi soal hak hidup pasien,” tulis laporan tersebut.
Memasuki tahun 2026, pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) diharapkan mampu menjadi jembatan. AI dapat membantu menganalisis pola dari berbagai sumber data yang terfragmentasi di seluruh dunia untuk menciptakan protokol pengobatan yang lebih universal.
Pemerintah dan lembaga kesehatan internasional kini didesak untuk memperkuat kolaborasi dalam pertukaran data medis secara transparan dan etis guna memastikan tidak ada lagi pasien yang “terlupakan” hanya karena data mereka tidak tercatat dalam sistem global. (FG12)
sumber Forbes.com










