Berita Jurnalkitaplus – Petugas Damkar Kota Depok, Khairul Umam, diteror melalui WhatsApp setelah membuat konten edukasi tentang fungsi helm sebagai alat pelindung kepala, bukan untuk melukai orang. Konten viral tersebut dianggap menyindir insiden kematian siswa MTs Arianto Tawakal (14 tahun) di Tual, Maluku Tenggara, yang diduga dipukul helm taktis oleh oknum Brimob Bripda Masias Siahaya pada 19 Februari 2026.
Kombes Pol Manang Soebeti dari Ditpen Pengawas Umum Itwasum Polri mengonfirmasi pelaku peneror bernama Wawan Gunawan, buruh harian lepas asal Subang, Jawa Barat, lahir 1980-an, dan jelas bukan anggota kepolisian.
Pesan teror yang dikirim Wawan berisi ancaman seperti “tunggu saya kejauhan buat kamu” dan saran pakai helm untuk keselamatan, disertai data pribadi Khairul seperti alamat rumah serta nama orang tua.
Manang menilai aksi ini bukan teror serius karena hanya dilakukan 1-2 kali, tanpa spam intensif atau kunjungan langsung, meski tetap melanggar hukum.
Kasus ini mencuat setelah video Khairul di Instagram @xkhairulumam viral, memicu perdebatan tentang helm polisi pasca-tragedi Tual di mana Arianto tewas akibat pendarahan otak saat motornya oleng usai diduga dipukul helm Brimob saat patroli.
Klarifikasi Polri menepis asumsi publik bahwa peneror dari kalangan polisi, berdasarkan verifikasi nomor WhatsApp yang mengarah ke identitas sipil Wawan di Dusun Anggrek, Cipeucang, Subang.
Insiden ini menyoroti risiko konten edukatif menjadi isu sensitif terkait kekerasan aparat, sementara keluarga Arianto menuntut keadilan dan Amnesty International menyebutnya extrajudicial killing. Khairul kini melaporkan kasusnya, sementara Polri menjanjikan penegakan hukum transparan. (FG12)











