Berita Jurnalkitaplus – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan strategi pemerintah menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah gejolak global dalam wawancara eksklusif dengan Bloomberg. Ia menegaskan pemerintah berupaya menyeimbangkan antara dorongan pertumbuhan dan kehati-hatian fiskal, terutama setelah tekanan terhadap rupiah dan pasar saham dalam beberapa waktu terakhir. Purbaya juga kembali menyampaikan proyeksi pertumbuhan yang ambisius, sekaligus menekankan pentingnya kepercayaan investor terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.
Dalam percakapan tersebut, Purbaya menyatakan pemerintah tetap berkomitmen pada aturan defisit maksimal 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Menurutnya, disiplin fiskal menjadi kunci menjaga kredibilitas Indonesia di mata pasar keuangan internasional, terutama setelah peringatan terkait transparansi yang sempat disampaikan oleh MSCI. Ia menilai, ruang fiskal yang terjaga akan memberi keyakinan kepada investor bahwa program-program besar pemerintah masih dapat dibiayai tanpa mengorbankan stabilitas makroekonomi.
Purbaya juga menyoroti kebijakan subsidi energi, terutama terkait keputusan pemerintah menahan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di tengah lonjakan harga minyak akibat perang di Timur Tengah. Ia menyebut langkah itu sebagai upaya menjaga daya beli masyarakat dan mencegah tekanan tambahan terhadap inflasi, dengan konsekuensi pengetatan belanja di pos-pos lain serta optimalisasi penerimaan negara. Sebelumnya, Purbaya sudah menegaskan bahwa harga BBM bersubsidi tidak akan naik setidaknya hingga akhir 2026, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Di sisi lain, Purbaya memanfaatkan forum wawancara ini untuk kembali meyakinkan investor global bahwa prospek ekonomi Indonesia tetap menarik. Ia menyebut minat investor asing masih kuat, namun diiringi tuntutan akan kepastian kebijakan, mulai dari arah fiskal, stabilitas politik, hingga reformasi struktural di pasar keuangan. Pemerintah, kata dia, akan menggunakan masukan lembaga-lembaga internasional sebagai momentum pembenahan regulasi dan tata kelola, sembari terus menggaungkan narasi bahwa Indonesia siap menjadi salah satu motor pertumbuhan kawasan dalam beberapa tahun ke depan. | FG12
Bloomberg











