Berita Jurnalkitaplus – Jepang nyaris menciptakan kejutan terbesar di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Selama 45 menit pertama, Samurai Biru tampil disiplin dengan blok pertahanan rapat, pressing agresif, serta transisi cepat yang membuat Brasil kehilangan ritme. Gol Kaishu Sano lahir dari kesalahan distribusi bola Brasil di lini tengah, sekaligus menjadi bukti efektivitas strategi Hajime Moriyasu dalam memancing lawan melakukan kesalahan.
Namun pertandingan berubah total selepas turun minum. Carlo Ancelotti membaca persoalan utama timnya: terlalu banyak membangun serangan melalui kombinasi pendek di tengah yang justru menguntungkan Jepang. Brasil kemudian mengalihkan fokus serangan ke kedua sayap, memperbanyak umpan silang, dan meningkatkan intensitas tekanan di area pertahanan lawan. Pergeseran taktik ini memaksa blok pertahanan Jepang melebar dan mulai kehilangan kerapatan.
Perubahan tersebut langsung membuahkan hasil pada menit ke-56. Umpan silang dari sisi kiri disambut sundulan Casemiro untuk menyamakan kedudukan. Gol itu menjadi titik balik karena sejak saat itu Brasil menguasai pertandingan dengan penguasaan bola lebih dominan, sementara Jepang semakin dalam bertahan dan kesulitan mempertahankan intensitas pressing seperti di babak pertama.
Ancelotti juga memenangkan duel taktik melalui pergantian pemain. Masuknya Endrick dan Gabriel Martinelli menambah kecepatan sekaligus agresivitas di sepertiga akhir lapangan. Martinelli terus menyerang ruang di belakang bek sayap Jepang, sedangkan Bruno Guimarães lebih berani mengirim umpan vertikal. Kombinasi inilah yang akhirnya menghasilkan gol kemenangan pada menit ke-95 ketika Martinelli memanfaatkan celah kecil di kotak penalti untuk menuntaskan umpan Guimarães.
Di sisi lain, Jepang membayar mahal keputusan bertahan terlalu dalam setelah unggul. Organisasi pertahanan mereka memang sangat solid selama lebih dari satu jam, tetapi menurunnya stamina membuat jarak antarlini semakin renggang. Ketika tekanan Brasil terus meningkat melalui permainan sayap dan crossing, Jepang kehilangan kemampuan melakukan serangan balik yang sebelumnya menjadi senjata utama. Kesalahan kecil di menit-menit akhir pun cukup untuk menghancurkan mimpi mereka mencatat kemenangan perdana di fase gugur Piala Dunia.
Kemenangan 2-1 ini memperlihatkan wajah baru Brasil di bawah Ancelotti. Alih-alih mengandalkan “jogo bonito” sepanjang laga, Selecao tampil lebih pragmatis: sabar membaca pertandingan, berani mengubah pendekatan saat menemui jalan buntu, lalu menghukum lawan pada momen yang tepat. Bukan kemenangan yang spektakuler sejak menit awal, tetapi kemenangan yang menunjukkan kedewasaan taktik—sesuatu yang bisa menjadi modal penting Brasil dalam perburuan gelar Piala Dunia keenam. | FG12











