Berita Jurnalkitaplus – Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan pekan ini dengan pelemahan signifikan terhadap dolar AS, dibuka di level Rp16.812 per dolar AS pada Senin (2/3/2026) dan sempat menyentuh Rp16.830, turun 0,26 persen dari penutupan akhir pekan sebelumnya di Rp16.759. Pelemahan ini dipicu oleh sentimen risk off global akibat eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang membuat investor beralih ke aset aman seperti dolar AS dan emas. Data Bloomberg hingga pukul 09.03 WIB mencatat penurunan sebesar 43 poin, mencerminkan tekanan eksternal yang kuat pada mata uang negara berkembang.
Pengamat pasar uang Lukman Leong memproyeksikan rupiah berpotensi melemah lebih lanjut sepanjang hari ini karena konflik bersenjata di kawasan tersebut memicu ketidakpastian. Investor cenderung menghindari aset berisiko tinggi, sehingga permintaan dolar AS melonjak dan menekan rupiah. Situasi ini diperparah oleh dinamika harga minyak dunia yang fluktuatif akibat gangguan pasokan potensial dari Timur Tengah.
Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas kurs agar tidak bergerak terlalu liar. Lukman menilai BI akan menyeimbangkan pasokan valuta asing di pasar, dengan proyeksi pergerakan rupiah hari ini berada di rentang Rp16.750 hingga Rp16.900 per dolar AS. Sejak awal tahun, rupiah sudah melemah 0,81 persen, sementara dalam setahun terakhir bergerak antara Rp16.079 hingga Rp17.224. (FG12)










