Berita Jurnalkitaplus | Pasar saham Wall Street terkoreksi tajam pada Senin (4/5/2026) akibat ledakan misterius di Selat Hormuz yang menimpa kapal Korea Selatan, memicu kekhawatiran ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Indeks S&P 500 merosot 0,41% menjadi 7.775 poin, Nasdaq Composite melemah 0,19% ke 25.580, serta Dow Jones Industrial Average anjlok 1,13% ke 48.941,90, setelah sempat mencatat rekor tinggi pada Jumat lalu. Sepuluh dari 11 sektor S&P 500 turun, dengan sektor material dan industri paling terpukul, meski sektor energi justru naik 0,9% di tengah spekulasi lonjakan harga minyak.
Insiden ledakan tersebut memicu klaim Iran yang menyatakan memaksa kapal perang AS mundur serta serangan drone ke instalasi minyak UEA, sementara Presiden Donald Trump menegaskan Angkatan Laut AS akan menjaga keamanan selat vital tersebut.
Analis Baird Wealth Management Ross Mayfield menilai pasar rentan terhadap koreksi karena sentimen risiko geopolitik mendominasi, walau skenario perang terbuka belum paling mungkin. Performa saham mencolok termasuk GameStop (GME) yang anjlok 10% akibat rencana akuisisi eBay senilai US$56 miliar, FedEx (-9,1%) dan UPS (-10%) karena persaingan logistik Amazon, sementara Palantir naik 1% berkat laporan keuangan solid.
Secara lebih luas, fluktuasi ini terjadi di tengah laporan keuangan kuartal I perusahaan-perusahaan AS yang mayoritas positif, dengan harapan pemulihan cepat jika ketegangan mereda seperti kasus sebelumnya ketika Selat Hormuz dibuka kembali. Investor kini memantau respons Iran dan AS, serta potensi dampak pada harga minyak global yang bisa memengaruhi ekonomi dunia.
Meski demikian, pasar tetap waspada terhadap volatilitas jangka pendek di tengah dinamika Timur Tengah yang tak menentu. | FG12











