Berita Jurnalkitaplus – Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan perubahan arah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar lebih tepat sasaran, yakni difokuskan hanya pada anak-anak yang mengalami kekurangan gizi. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyatakan bahwa kebijakan ini akan disesuaikan dalam Rencana Strategis (Renstra) BGN 2026 untuk meningkatkan efektivitas layanan.
Sebelumnya, program ini diberikan secara universal, namun kini anak dari keluarga mampu tidak lagi menjadi prioritas utama demi mengoptimalkan dampak bagi yang paling membutuhkan.
Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2025 mengungkap masih ada sekitar 7,8 juta anak Indonesia yang kekurangan gizi, menempatkan negara ini di lima besar dunia dengan masalah gizi tertinggi. Wakil Kepala BGN Nanik S. Deyang mengungkapkan bahwa tim Optimalisasi Penerima Manfaat segera dibentuk untuk memilah sasaran secara akurat. Survei awal akan dimulai pekan depan di Jakarta, dengan koordinasi data bersama Kementerian Sosial dan Kemendikdasmen, dilanjutkan validasi lapangan untuk memastikan distribusi yang tepat.
Pengamat kebijakan publik dari Universitas Indonesia, Lina Miftahul Jannah, menilai langkah ini sangat tepat sebagai bentuk evaluasi program agar lebih efektif, khususnya dari sisi ekonomi dan akses makanan.
Pendekatan berbasis kebutuhan diharapkan menjadi kunci keberhasilan MBG dalam menangani stunting dan gizi buruk di Indonesia. Perubahan ini dianggap strategis untuk membangun generasi yang lebih sehat dan produktif ke depan.











