Berita Jurnalkitaplus – Suasana Reuni SMA 1971 Sumedang pekan lalu. Siang itu suasana reuni alumni terasa hangat seperti semangkuk bajigur di musim hujan. Setelah agak lama dipisahkan oleh kesibukan kantor, rapat, dan urusan anak/cucu sekolah, kini sebagian besar yang hadir membawa status yang sama: Pensiunan.
Rambut yang dulu hitam mengkilap kini lebih banyak berwarna perak. Ia yang dulu berlari mengejar promosi jabatan, sekarang ia lebih rajin mengejar jadwal kontrol kesehatan. Obrolan pun berubah. Tidak ada lagi pembahasan tentang kenaikan pangkat atau evaluasi kinerja. Hal yang ramai justru cerita kolesterol, tekanan darah, cucu yang lucu-lucu, dan tentu saja… harga-harga yang makin bikin dompet berolahraga.
“Teman-teman, lihat berita pagi tadi?” tanya Kang Deddy sambil mengaduk kopi. “Katanya dolar sudah mendekati Rp18.000.”
Beberapa kepala langsung mengangguk.
Pak Sumitra yang selama hidupnya menjadi pegawai BUMN tersenyum geli.
“Saya ini tidak pernah punya dolar. Tidak pernah beli dolar. Tidak pernah menabung dolar. Tapi anehnya, setiap dolar naik, pengeluaran saya ikut naik.”
Ruangan langsung pecah oleh tawa. Memang begitulah nasib rakyat biasa. Tidak pernah bertemu dolar secara langsung, tetapi dampaknya seperti tetangga yang sering mampir tanpa diundang.
Bu Iis ikut menimpali.
“Hal yang paling terasa itu harga obat. Dulu beli satu kantong masih lumayan. Sekarang rasanya obat saya ikut terkena inflasi.”
“Untung penyakitnya tidak ikut naik kelas,” sahut Teh Nia dari belakang.
Tawa kembali bergema. “Pada usia pensiun, obat kadang sudah masuk daftar belanja rutin. Obat seolah sejajar dengan beras dan minyak goreng. Bedanya, beras bisa ditunda sehari. Obat jangan sampai lupa.” Kang Saeful mengangguk sambil tersenyum.
“Waktu masih kerja, harga naik sedikit tidak terlalu terasa. Masih ada honor, masih ada perjalanan dinas, masih ada proyek tambahan. Sekarang uang pensiun tetap. Dan yang tidak tetap itu harga-harga.”
Semua mengangguk setuju.
Suasana sempat hening beberapa detik. Namun seperti biasa, para alumni senior punya kemampuan luar biasa mengubah kegelisahan menjadi bahan tertawaan.
Tahu Mengecil
Bu Euis, pensiunan guru SMA dari Sumedang, mengangkat tangan.
“Kalau saya punya indikator ekonomi sendiri.”
“Indikator apa?” tanya Teh Ettih, Teh Odas & beberapa teman serempak.
“Saya tidak lihat kurs dolar.”
“Lalu?”
“Saya lihat ukuran Tahu Sumedang.”
Ruangan langsung bergemuruh.
Bu Euis melanjutkan dengan wajah serius yang justru membuat semua semakin tertawa.
“Dulu dua atau tiga potong tahu bisa membuat kenyang. Sekarang rasanya potongan tahu makin mungil. Saya curiga tahu-tahu itu sedang ikut program diet nasional.”
Gelak tawa kembali pecah.
“Tapi serius,” lanjut Bu Euis. “Kata pedagang langganan saya, harga kedelai naik terus. Karena banyak kedelai masih impor dari AMRIK, kalau dolar naik, ongkos dan biaya produksi ikut naik. Daripada harga tahu melonjak, ukuran tahunya yang menyusut.”
“Wah,” kata Pak Ukas, “berarti teori ekonomi paling mudah sekarang adalah Teori Tahu Sumedang.”
“Betul,” sahut yang lain, seolah mengamini.
“Kalau tahu mengecil, dolar sedang sehat.”
“Kalau tahu makin tipis?”
“Dolar sedang senam pagi.”
Tawa semakin keras.
Di tengah candaan itu, para alumni yang hadir sebenarnya memahami kenyataan yang dihadapi para pelaku usaha kecil. Mereka harus berjuang menjaga usaha tetap hidup di tengah kenaikan harga bahan baku, listrik, transportasi, dan berbagai biaya lainnya.
Bu Euis lalu berkata lebih pelan.
“Saya makin salut pada pedagang kecil. Mereka bertahan bukan karena modal besar, tetapi karena tekad yang besar.”
Beberapa peserta mengangguk setuju.
Pak Adang, Pupuhu kelompok, kemudian menyela.
“Kalau dolar naik dan tahu mengecil, yang penting silaturahmi jangan ikut mengecil. Silaturahim jangan kendor”.
Kalimat sederhana itu langsung disambut tepuk tangan.
Memang benar. Ukuran tahu boleh berubah. Harga obat boleh bertambah. Tetapi persahabatan yang sudah terjalin puluhan tahun justru terasa semakin besar nilainya.
Tidak lama kemudian Abah, yang humoris legendaris sejak zaman kuliah, mengangkat usul.
“Kita bikin Koperasi Alumni pensiunan saja. Koperasi di Usia Senja, untuk menangkis badai Dolar” katanya.
“Wah bagus!”
“Tapi ada syaratnya.”
“Apa?”
“Jangan koperasi yang kegiatannya hanya rapat, rapat, rapat, lalu rapat evaluasi hasil rapat.”
Ruangan kembali meledak oleh tawa.
Di balik candaan itu tersimpan pesan yang serius. Pada usia pensiun, kebersamaan sering menjadi modal sosial yang lebih berharga daripada modal finansial.
Obrolan kemudian mengalir. Di antara yang hadir, ada yang kini sibuk berkebun cabai. Ada yang beternak ikan. Ada yang membuka toko kecil. Ada yang menjadi konsultan berdasarkan pengalaman kerjanya dahulu.
“Ternyata pensiun itu bukan berhenti bekerja,” kata Teh Hetty.
“Lalu?”
“Pensiun itu berhenti stres karena atasan.”
Tepuk tangan dan tawa langsung bersahutan.
Kang Endang yang dulu bekerja di dunia perbankan kemudian mengenang masa ketika dolar masih di bawah Rp2.000. Ia juga mengingat badai krisis tahun 1998 yang pernah mengguncang negeri ini.
“Kita sudah melewati banyak ujian ekonomi,” ujarnya.
“Betul, kang Endang” kata yang lain menimpali.
“Dulu kita bisa bertahan. Sekarang juga insya Allah bisa bertahan.”
Pengalaman panjang membuat para pensiunan memiliki satu kelebihan yang tidak bisa dibeli dengan uang: perspektif. Mereka tahu bahwa setiap badai pasti berlalu. Setiap kesulitan pasti ada akhirnya.
Pak Haji Ukas mengangkat gelas kopinya.
“Yang paling penting itu sehat.”
Semua langsung setuju.
“Kalau sehat, kita masih bisa jalan pagi.”
“Masih bisa bermain dengan cucu.”
“Masih bisa menanam sayur.”
“Masih bisa tertawa.”
“Masih bisa karaoke!”
Mendengar kata terakhir, seluruh ruangan langsung bersorak.
“Setuju!”
Ketika acara hampir selesai pak Haji Mukhsin, yang dikenal sebagai sosok kyai di kalangan alumni, meminta waktu sebentar untuk menyampaikan pesan penutup.
Suasana perlahan menjadi tenang.
Dengan suara yang lembut beliau berkata,
“Sahabat-sahabatku, hari ini kita banyak berbicara tentang dolar yang naik, harga yang naik, dan pengeluaran yang ikut naik. Tetapi ada satu hal yang jangan sampai turun, yaitu rasa syukur.”
Ruangan hening.
Beliau melanjutkan,
“Kita mungkin tidak lagi muda. Rambut kita sudah
memutih. Langkah
kita tidak secepat
dulu. Tetapi
lihatlah, hari ini kita masih bisa berkumpul. Kita
masih bisa tertawa. Kita masih bisa saling mengenali wajah-wajah lama yang pernah menemani perjalanan hidup kita. Itu adalah nikmat yang luar biasa.”
Beberapa peserta tampak mengangguk pelan.
“Dolar bisa naik. Harga tahu bisa berubah dan cenderung mengecil. Obat bisa bertambah mahal. Tetapi jangan sampai hati kita ikut menyusut seperti tahu yang diperkecil ukurannya.”
Senyum mulai terlihat di wajah para alumni.
“Kebahagiaan tidak ditentukan oleh kurs mata uang. Kebahagiaan lahir dari hati yang bersyukur. Keluarga yang menyayangi. Sahabat yang masih peduli, dan kesempatan untuk terus berbuat baik selama Allah SWT masih memberi umur.”
Beliau berhenti sejenak.
“Kita semua sedang menunggu giliran untuk pulang menghadap Sang Khalik. Maka mari isi sisa perjalanan ini dengan amal terbaik, silaturahmi yang lebih erat, dan hati yang lebih lapang.”
Ruangan menjadi sangat khidmat.
Kemudian Pak Haji Mukhsin menutup pesannya.
“Sahabat-sahabatku. Jika suatu hari nanti kita dipanggil menghadap Allah SWT, semoga kita datang dengan hati yang tenang, amal yang cukup, dan senyum yang penuh keridhaan. Aamiin.”
“Aamiin…” jawab seluruh hadirin hampir bersamaan.
Tak lama kemudian acara ditutup dengan sesi foto bersama. Ritual reuni pun bubar.
Oleh : Dinn Wahyudin











