Membaca Pikiran Anda

24 April: Hari Solidaritas Pemuda Anti-Kolonialisme, Semangat Bandung Melawan Penjajahan Gaya Baru

Berita Jurnalkitaplus – Setiap 24 April, pemuda dunia memperingati Hari Solidaritas Internasional untuk Pemuda Anti-Kolonialisme. Tanggal ini bukan kebetulan. 24 April 1955, Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung ditutup dengan lahirnya Dasasila Bandung
10 prinsip anti-penjajahan yang mengguncang dunia.

Hari ini adalah pengingat bahwa kolonialisme belum mati. Kalau dulu musuhnya tentara dan meriam, sekarang wajahnya berubah jadi neo-kolonialisme: utang luar negeri, eksploitasi sumber daya, dominasi budaya, sampai monopoli data digital.

Ditetapkan tahun 1957 oleh Federasi Pemuda Demokratik Sedunia (WFDY) dan PBB. Inspirasinya jelas: KAA 1955 yang digagas Soekarno, Nehru, Nasser, dan Zhou Enlai. Mereka ngumpulin 29 negara Asia-Afrika yang baru merdeka atau masih berjuang.

Karena hari itu Dasasila Bandung diumumkan ke dunia dari Gedung Merdeka, Bandung. Dua poin kuncinya: hormati kedaulatan tiap bangsa dan menolak campur tangan asing.

Karena “jajahannya” masih ada. Bedanya, sekarang nggak pakai senjata. Kita dijajah lewat perjanjian dagang yang nggak adil, lewat aplikasi yang sedot data kita, lewat tren budaya yang bikin lupa jati diri.

Nggak perlu ribet. Anak muda bisa mulai dari hal kecil,diskusi soal Dasasila Bandung di kampus, bikin konten edukasi #BandungSpirit di media sosial, main ke Museum KAA di Bandung, atau mengutamaka membeli produk dalam negeri sendiri / UMKM

Bung Karno bilang, KAA adalah “konferensi pertama bangsa-bangsa berwarna”. Hari ini, “berwarna” itu artinya berani berdiri di kaki sendiri.

24 April menanyakan kepada kita sudah benarkah kita merdeka? Kalau belum, tugas pemuda untuk merebutnya lagi. Bukan dengan bambu runcing, tapi dengan ilmu, karya, dan solidaritas. Dari Bandung, untuk dunia. | ADR37

Daftar pustaka : arsip Kemenlu RI dan arsip museum KAA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *