Membaca Pikiran Anda

Trisinergi Edamame: Strategi Ketahanan Pangan dan Pemberdayaan Ekonomi Desa Cikarag

Melalui kerjasama Trisinergi ini diharapkan lahan carik desa Cikarag yang luasannya melebihi kawasan penduduk (info tidak resmi), yang sebagiannya belum dimanfa’atkan secara optimal, bisa diproyeksikan untuk pembukaan lahan pertanian yang lebih luas dan lebih produktif lagi. Salah satunya dengan ditanami kedelai Edamame, serta komoditi pertanian lainnya.

Selain berorientasi pada keuntungan secara finansial (profit oriented), banyak manfa’at (benevit) juga yang bisa didapatkan, khususnya bagi masyarakat desa Cikarag, banyak masyarakat petani bisa dikaryakan, secara otomatis juga menjadi prestise bagi pemerintah desa Cikarag, karena melalui kerjasama ini bisa membuka lapangan kerja baru bagi masyarakatnya, semakin luas lahan yang dibuka dan dikembangkan, semakin banyak juga lapangan kerja baru bagi masyarakat, berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan masyarakat yang akan lebih meningkat.Ketersediaan lahan tidaklah cukup, namun tim LH ASSB harus memastikan status lahan tersebut seperti apa kedudukannya secara administrasi di pemerintahan desa Cikarag, mana saja letak dan batas-batasnya, bagaimana kualitas tanah, serta siapa saja penggarap di dekitar lahan yang sudah lebih dulu bertani, sehingga survei lahan menjadi hal utama dan pertama yang harus dilakukan oleh tim LH ASSB.

Bulan Agustus 2024, pengurus ASSB bersama tim lingkungan hidup bersepakat untuk melakukan survei untuk mendapatkan data ril lahan yang akan dikembangkan, dari catatan administrasi di kantor desa Cikarag, hingga fisik lahan yang akan digarap dan dikembangkan untuk pengembangan dan budi daya kedelai Edamame.

Setelah survei dilakukan oleh pengurus ASSB bersama divisi lingkungan hidup, yang sekaligus didampingi oleh Pembina pada saat itu, didapatilah data-data hasil survei sebagai berikut :

  1. Lahan tersebut berada di blok Pasir Panjang, statusnya adalah lahan carik desa Cikarag, dibuktikan dengan peta wilayah desa Cikarag secara untuh dan terdapat batas-batas wilayahnya dengan jelas (peta terlampir).
  2. Luas lahan yang akan digarap dan dikelola sekitar 2 hektar, dalam posisi lahan tidur, ditumbuhi semak-semak, pohon-pohon liar yang tidak punya nilai ekonomi, dan ilalang yang cukup tinggi, karena sudah ditinggalkan oleh penggarap sebelumnya lebih dari 6 tahun lalu.
  3. Di sekitar lahan yang akan dibuka sudah ada beberapa petani yang bercocok tanam, komoditi pertanian yang ditanam mayoritas cabe kriting, sebagian jahe gajah, strawberi dan sebagian kecil lainnya jenis palawija umur pendek seperti kacang merahdan kacang tanah, ada juga yang nanam rempah seperti Kapol Laga, dan perkebunan Kopi Arabica, khususnya lahan yang berbatasan langsung dengan lahan Perhutani.
  4. Kelayakan tanah ketika disurvei, dan diuji oleh tim divisi LH ASSB, ditest dengan alat ukur PH meter, menujukan kesuburan tanah sangat baik, terutama untuk tanaman palawija, kedelai Edamame khususnya.
  5. Ketersediaan air cukup melimpah, apalagi jika dipasang pipah atau selang dari sumber mata airnya langsung, air akan terus mengalir meskipun musim kemarau, apalagi di musim penghujan seperti saat ini. Tinggal dibuatkan bak penampungan induk yang besar di ujung lahan pertanian paling atas, selebihnya dibuatkan bak-bak penampungan yang cukup di bebetapa titik lahan pertanian untuk memudahkan penyiraman dan penyemprotan lahan pertanian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *