Setelah dilakukan survei lahan secara menyeluruh, selanjutnya tim LH ASSB, melakukan analisa secara mendalam, sekaligus memetakan (mitigasi) tingkat kekeliruan (margin eror), sehingga setelah dipetakan hingga kemungkinan resiko terburuk, diharapkan bisa meminimalisir tingkat kerugian yang kemungkinan terjadi. sebelum eksekusi pengerjaan dan mulai melakukan pengembangan serta budidaya komoditi pertanian kedelai Edamame. Secara prefentif kita bisa melakukan pencegahan dari kemungkinan terburuk yang dimaksud.
Resiko-resiko yang mungkin terjadi setelah dianalisa dan dipetakan diantaranya;
1. Pemilihan bibit yang tidak berkualitas (tidak bersertifikat), tidak bisa dipertanggung jawabkan, akan mengakibatkan gagal panen atau hasil panen tidak sesuai dengan harapan.
2. Pemilihan lahan yang asal, tidak dicek dengan alat yang memadai, apalagi jika tidak melakukan treatment khusus untuk lahan-lahan yang sudah jenuh dengan obat-obatan kima, akan mengakibatkan pertumbuhan tanaman kurang baik, berdampak pada hasil panen tidak maksimal.
3. Pola pemeliharaan, pengaturan dan manajemen dari mulai persiapan lahan, penanaman, pemupukan, penyemprotan hingga panen, bahkan sampai pasca panen, harus disiplin dengan SOP (Standard Oprational Prosedure) yang sudah dibuat dan disepakati bersama, sesuai petunjuk perusahaan yang akan membeli hasil panen kedelai Edamame sesuai kontrak MoU, jika tidak siap-siaplah menderita kegagalan panen.
Setelah melakukan analisa dan mitigasi resiko untuk penanaman kedelai Edamame, di blok Pasir Panjang Desa Cikarag Kecamatan Malangbong Kabupaten Garut ini, selanjutnya divisi LH ASSB mengajukan permohonan izin penggunaan dan pengembangan lahan seluas 2 hektar tersebut untuk pertanian yang dimaksud.
Melalui salah satu anggota divisi LH ASSB yang berdomisili di Desa Cikarag, ASSB mengajukan izin penggunaan lahan 2 hektar di blok Pasir Panjang, dan sudah diberikan izin oleh kasdes Cikarag, terhitung dari dokumen izin tersebut ditandatangani sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
Namun secara perinsif bahwa lahan tersebut silahkan dipergunakan sebaik-baiknya untuk lahan pertanian dan palawija, selam pihak desa belum menggunakannya, dan jika pihak desa akan mempergunakannya, maka lahan tersebut secara suka rela harus dikembalikan pada pemerintah desa Cikarag, dokumen izin penggunaan lahan terlampirSetelah izin penggunaan dan pembukaan lahan pertanian seluas 2 hektar didapatkandari kepala desa Cikarag, pekan ke-4 Agustus pengurus ASSB bersama tim LH, langsung melakukan eksekusi pengerjaan lahan, dimulai dengan babat alas, pembersihan semak belukar, ilalang, dan pohon-pohon yang tidak punya nilai ekonomi ditebang dan dibersihkan dari lahan yang akan ditanami komoditi pertanian yang sudah dipersiapkan yaitu kedelai Edamame.
Dalam pembabatan dan pembersihan lahan tersebut, divisi LH ASSB menggandeng petani setempat, yang sudah bertani lebih dulu di lokasi tersebut sebanyak 15 orang untuk ikut membantu dengan sistim kerja upah harian lepas, senilai Rp. 80.000 per hari dari jam 07:00 – 12:00 (ngabedug), selama 6 hari kerja dari Sabtu sampai dengan Kamis, gajihan tiap hari Kamis, hari Jum’at libur. Setelah sepekan babat alas dan pembukaan lahan, selanjutnya langkah berikutnya dilakukan pencangkulan lahan, sekitar 1,5 hektar lahan yang sudah dibuka langsung dicangkul. Untuk pencangkulan yang mengerjakan diambil 10 orang, karena untuk ini butuh tenaga khusus yang sudah terampil dalam melakukan pencangkulan, tidak semua orang bisa melakukannya dengan baik dan benar, butuh tekhnik, pengalaman dan kekuatan khusus dalam mencangkul ini.
Dua bulan penuh September-Oktober terus melakukan pencangkulan, dengan target lahan yang sudah dibabat alas dan dibuka seluas kurang lebih 1,5 hektar beres di akhir Oktober, karena persiapan menyongsong hujan di awal November. Sampai bulan November pekan ke-2 baru bisa menyelesaikan pencangkulan seluas 1,5 hektar. Setelah beres pencangkulan, tahap berikutnya secara bertahap lahan yang sudah dicangkul digarit (dibedeng/gulud) dengan lebar 1 m sekaligus penaburan pupuk postal (pupuk kohe ayam broiler) dicampur pupuk pabrikan yaitu Ponska atau pupuk mutiara, dilanjutkan dengan pemasangan mulsa (plastik silver khusus penutup media tanam) untuk mencegah tumbuh rumput liar dan gulma di bedengan lahan tanam.











